Loading...
InspirationParenting

Remaja dan Usia Baligh

Usia baligh adalah bagian dari runutan fase kehidupan manusia. Semua manusia dewasa pasti telah melaluinya, yakni masa peralihan meninggalkan fase dunia anak-anak. Baligh ditandai dengan bermimpi basah bagi laki-laki dan keluar darah haid bagi perempuan. Anak-anak ketika telah datang masa baligh, maka ia telah taklif yakni diberikannya beban syariat. Sehingga kemudian anak-anak telah secara penuh bertanggung jawab di hadapan Allah atas apa yang dilakukannya.

Dalam dunia psikologi, masa awal-awal baligh umumnya disebut dengan usia remaja. Masa remaja ini kemudian dikorelasikan dengan masa kebebasan, pencarian jati diri, energi yang meluap-luap namun belum matangnya mental dan perilaku sehingga banyak mengalami keguncangan dankenakalan. Akhirnya maraklah fenomena kenakalan remaja, tawuran antar sekolah, geng motor, narkoba, free sex, dan lain-lain. Hari ini, para orang tua justru paling cemas ketika memiliki anak yang usianya remaja, karena begitu bebasnya pergaulan dan kuatnya pengaruh tren kawula muda.

Namun di sisi lain, masyarakat pun memiliki cara pandang maklum atas setiap kesalahan kenakalan yang dilakukan oleh para remaja. “maklum, remaja.. sedang mencari jati diri..” kata sebagian orang menyaksikan ulah remaja. Atau bertutur: “namanya juga anak muda.. maklum..” begitulah sebagian orang berapologi. Hingga ada syair seperti ini “ayo mama, jangan mama marah beta. Ayo mama, dia cuma cium beta. Ayo mama jangan mama marah beta, Lah orang muda punya biasa..” . Masa baligh, remaja, seolah menjadi masa untuk menjelajah pengalaman-pengalaman pergaulan tanpa batas orang-orang dewasa.

Berbeda dengan Islam memandang, dalam buku “Remaja, Antara Hijaz dan Amerika” yang ditulis oleh Ustadz Budi Ashari, dijelaskan bahwa dalam fase kehidupan manusia hanya ada 3 saja yakni anak-anak, pemuda/dewasa, lalu orang tua. Juga di dalamnya memuat pendapat Dr. Khalid Ahmad Asy Syatut, seorang pakar pendidikan, bahwa fase setelah anak-anak adalah pemuda (syabab) bukan remaja (al murahaqah). Beliau memadankan istilah remaja / the teenagers sebagai al murahaqah karena memiliki makna sebagaimana citra remaja umumnya di dunia, yakni kegoncangan, kenakalan, kebodohan, kedunguan, gemar melakukan kesalahan/maksiat dan kedzaliman.

Mengapa masa remaja bisa begitu kacau?

Karena ketika usia anak-anak, mereka tidak disiapkan dengan baik pendidikan moral dan bekal ilmu oleh orang tuanya. Jiwa dan hati mereka kosong, hanya berisi imajinasi kesukaan, kesenangan, keinginan, tanpa disertai kedisiplinan agenda/aktifitas yang bersumber dari agama. Mereka tidak terbekali ilmu yang cukup untuk memahami bahwa setelah masa baligh tiba, ada pahala dan dosa yang mulai dibebankan.  Atau bahkan bisa lebih buruk lagi, mereka menyepelekan tentang syariat agama dan perbuatan dosa. Naudzubillah.

Bagi ummat muslim, usia baligh semestinya menjadi gerbang menuju puncak produktifitas. Membicarakan usia muda semestinya penuh dengan aura positif dan rasa optimis, bukan sebaliknya. Betapa banyak kisah tentang pemuda-pemuda dalam Islam yang menjadi inspirasi. Misalnya Muhammad Alfatih, pemuda yang di usia 21 tahun berhasil memimpin 250 ribu pasukan terbaik untuk menaklukkan konstantinopel. Ia juga dikenal sebagai pemuda yang tak pernah putus shalat tahajjud sejak usia baligh.

Kemudian kita mengenal Usamah bin Zaid, panglima perang yang ditunjuk oleh rasulullah saw di usia 18 tahun. Di dalam pasukan yang ia pimpin bahkan terdapat Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Abu Ubaidah Al Jarrah, dan sahabat-sahabat lainnya yang lebih senior. Rasulullah saw menunjuk Usamah adalah bentuk pendidikan yang sangat tinggi sekaligus bukti betapa Islam sangat mampu melahirkan generasi yang kuat apabila tepat dalam menyiapkannya sejak masa anak-anak.

Kemudian jika kita teliti lebih dekat lagi, usia 10 sahabat Nabi yang paling awal masuk Islam sekaligus dijamin masuk surga dalam satu Hadist, adalah juga kebanyakan dari golongan usia muda belia. Yakni, Abu Bakar ash Shiddiq (37 tahun), Umar bin Khattab (27 tahun), Ustman bin Affan (34 tahun), Ali bin Abi Thalib (10 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (14 tahun), Zubair bin Awwam (16 tahun), Saad bin Abi Waqqash (7 tahun), Said bin Zaid (15 tahun), Abu Ubaidah bin Jarrah (27 tahun), Abdurahman bin Auf (30 tahun).

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita sebagai orang tua menyiapkan masa baligh putra-putrinya sebaik mungkin. Agar dari dalam rumah tangga kita lahir generasi yang kuat ilmunya, kokoh imannya, dan amanah. Beberapa upaya yang dapat diikhtiarkan oleh orang tua diantaranya:

  1. Orang tua menanamkan tauhid, yakni kedekatan mereka dengan pandangan dan kasih sayang Allah.
  2. Menumbuhkan rasa suka kepada segala sesuatu yang disukai oleh Tuhannya. Baik aktifitas, amalan, makanan, benda-benda, dan lain-lainnya.
  3. Menanamkan tentang berharganya waktu kepada putra-putrinya sehingga perlu dipergunakan sebaik-baiknya.
  4. Menanamkan kepada anak bahwa ia akan membuat bangga orang tua, apabila ia senantiasa suka dengan yang Allah sukai.
  5. Orang tua perlu memberikan banyak kisah teladan rasulullah saw, juga para nabi, para sahabat sehingga tertanam sebagai role model kehidupannya. Karena melalui kisah/bercerita, adalah metode paling efektif untuk menanamkan nilai, inspirasi, ilmu maupun hikmah pelajaran kepada anak agar kelak ia menjadi pribadi yang penuh manfaat.

 

Semoga Allah senantiasa berikan kekuatan dan kemudahan bagi kita untuk menjalankan tuntunanNya, Alquran dan sunnah, serta meneladani RasulNya, Muhammad SAW, aamiin 🙂

Yang masih belajar

Lisa Listiana

Leave a Reply