Menggenggam Asa di Tengah Badai Wabah

Bulan Maret ini bisa dikatakan menjadi bulan ujian untuk kita semua. Bukan hanya satu-dua orang, namun seluruh bangsa diberi ujian untuk menghadapi sebuah permasalahan yang sama, yaitu COVID-19. Virus yang mulai terkuak di akhir tahun 2019 ini akhirnya sampai juga di bumi Indonesia setelah dua bulan berlalu. Membawa kita, masyarakat Indonesia ke dalam situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Sebuah situasi yang tak pernah terpikirkan bahkan oleh seluruh orang di negeri ini.

Munculnya COVID-19 tentunya bukan tanpa alasan. Sejatinya ia muncul dengan seizin Allah karena Ia-lah Tuhan semesta alam. Mengatur semua kejadian yang ada di langit dan bumi. Memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk terus berpikir dan mengambil hikmah dari tiap cobaan yang Ia siapkan. Pertanyaanya, siapkah kita menghadapi ragamnya ujian ini, termasuk sebuah makhluk kasat mata yang ternyata mampu mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan kita saat ini.

Bukan hanya masalah kesehatan, COVID-19 mulai memporak-porandakan kehidupan yang selama ini sudah membuat kita merasa “nyaman” tinggal di dunia. Keamanan dan kesejahteraan yang kita dapatkan selama ini seketika dirusak dengan munculnya sebuah penyakit yang di luar bayangan kita. Penyakit yang menyerang semua orang, tanpa mengenal usia, kedudukan, pekerjaan, kekayaan, dan tempat tinggal. Tak pernah akan kita ketahui kapan kita bisa terserang oleh virus ini. Kita hanya tahu cara mencegahnya, gejalanya, namun tak pernah akan tahu apakah kita akan menjadi salah satu orang yang terjangkiti oleh virus itu.

Masifnya masalah yang ditimbulkan oleh COVID-19 ini mau tidak mau membuat kita merenungi, apa sebenarnya tujuan ujian dari Allah kepada kita kali ini. Sebab kita tak akan pernah tahu hasil ujian kita kalau kita belum melewati prosesnya hingga akhir. Saat ini kita hanya bisa menebak-nebak, perbaikan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai hamba-Nya yang taat. Tentu perbaikan ini tak akan muncul tanpa adanya muhasabah diri yang mendalam. Tidak akan terjadi tanpa adanya kesadaran mengenai hal-hal yang mungkin selama ini telah “salah” atau melenceng dari ketentuan seharusnya. Oleh karena itu, keterbukaan pikiran dan hati amat diperlukan agar kita bisa menangkap pesan yang benar dari semua musibah ini.

Dalam kajian psikologi, ketika berhadapan dengan sebuah masalah berat maka kita akan melakukan dua daya upaya untuk melewati masalah itu, yaitu menghadapinya atau lari darinya. Tentu di situasi seperti ini lari bukanlah solusi karena virus itu ada di mana-mana. Kita tidak mungkin bersikap abai dan menganggap badai wabah ini akan berlalu begitu saja tanpa melakukan apapun. Pilihan paling tepat jelas dengan menghadapinya. Namun, kita butuh menyiapkan amunisi agar kita tidak menjadi pihak “kalah” dalam menghadapi ujian ini.

Ada lima hal yang dapat kita lakukan untuk menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian di tengah badai wabah ini.

  1. Meyakini kalau munculnya wabah ini merupakan sebuah kehendak atau takdir yang telah Allah tetapkan. Meskipun terkesan “buruk” di kacamata manusia, bukankah Allah memang selalu menyiapkan dua jalan untuk meningkatkan keimanan hamba-hamba-Nya. Buruk di mata manusia tidak berarti buruk di mata-Nya. Meningkatkan keyakinan dan keimanan kita bahwa segala sesuatu yang terjadi saat ini adalah sebuah perjalanan hidup yang harus kita lewati, merupakan langkah awal untuk menghadapi permasalahan ini. Di sinilah iman kita diuji, seberapa jauh kita memahami tentang maksud takdir yang telah ditetapkan Allah, baik atau buruk, dengan sepenuh hati. Tanpa mempertanyakan atau menggugat atas takdir-takdir yang tak sejalan dengan kehendak kita.
  2. Menggantungkan harapan akan masa depan. Di dalam Alquran pun kita selalu diingatkan untuk mempercayai ada kebaikan dari permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, termasuk COVID-19 ini. Mengambil hikmah dan menjadikan itu amunisi berikutnya untuk berhadapan dengan ragam dampak yang muncul akibat merebaknya wabah. Hikmah-hikmah itu tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Namun, tidak akan lepas dari peran kita selama ini, baik sebagai orang tua, anak, saudara, pekerja, dan bagian dari hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, hendaknya kita mulai bermuhasabah diri, mengenali kesalahan kita selama ini dan mulai memperbaikinya.
  3. Melakukan tindakan proaktif dalam menyikapi munculnya wabah, seperti mematuhi perintah penjarakan fisik (physical distancing), membantu para nakes yang kekurangan APD, atau membantu orang-orang lain yang mengalami kesulitan ekonomi. Tindakan ini mungkin terlihat kecil, tetapi memberikan dampak besar dalam menghadapi permasalahan wabah. Tanpa kita sadari kita menjadi bahu-membahu melawan dampak virus, sesuatu yang mungkin mulai banyak dilupakan sebelum masa wabah ini datang. Pandemi ini ternyata membuat kita menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar, yang selama ini mungkin kita abaikan.
  4. Berempati terhadap situasi yang dimiliki orang lain. Empati seakan menjadi benda langka akhir-akhir ini. Namun, munculnya pandemi ternyata mengajarkan kita untuk kembali mempelajari cara memahami orang lain. Empati ini mengajarkan kita untuk mendukung orang-orang yang terkena dampak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Empati menjadi amunisi agar kita kembali menjadi seorang rendah diri di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini.
  5. Terakhir, maafkanlah diri ketika menjadi salah satu yang memiliki virus ini. Kita tak akan pernah tahu apakah takdir menggiring kita untuk menjadi salah satu orang yang tertular. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri atas kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, yaitu menjadi orang yang tertular. Memaafkan diri menjadi salah satu cara kita menerima takdir dan ketentuan Allah di dalam situasi ini. Tentu ini bukan hal mudah. Penolakan merupakan reaksi alamiah yang terjadi ketika kita mengalami hal buruk. Namun, dengan mencoba menerima dan memaafkan diri bisa menjadi cara agar kita bisa lebih memandang situasi secara lebih objektif. Dengan demikian, penerimaan terhadap takdir akan lebih bisa dilakukan.

Lima hal ini memang menjadi sedikit dari banyak hal yang bisa kita lakukan. Namun, apapun yang kita lakukan di tengah pandemi ini, satu hal yang tak boleh terlupa adalah asa kita terhadap ketentuan Allah ini. Mempercayai semua akan berakhir, meskipun nantinya kita harus berhadapan dengan banyak kenyataan pahit. Namun, sekali lagi sebuah kejadian terjadi selalu dengan izin Allah, termasuk kondisi ini. Menyangkalnya akan menjadikan segala sesuatu lebih buruk, termasuk dengan mengabaikannya.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita bersyukur Allah masih memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri di tengah wabah ini. Mengetuk hati-hati kita yang mungkin selama ini telah keras karena terlalu banyak mengejar kehidupan duniawi. Bisa jadi, ini pun menjadi cara Allah untuk mengembalikan kita pada syariat-syariat yang seharusnya, bukan hanya mengikuti adat kebiasaan serta budaya yang mungkin jauh dari perintah-perintah agama.

Kita tahu ini akan berakhir walau tak pernah tahu kapan berakhirnya. Namun, sebingkai asa akan menguatkan keimanan kita bahwa Allah telah menetapkan jalan yang terbaik untuk kita jalani ke depannya. Maka apalagi yang dapat kita lakukan selain menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Editor: Agastya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *