Loading...
Inspiration

Mengembalikan Fungsi Keluarga untuk Membangun Indonesia

Sebagai insan cendekia, kita tentu boleh memilih profesi di bidang apa saja sesuai keahlian. Setiap ilmu yang dikaruniakan oleh Tuhan untuk membangun peradaban mulia di Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang sangat tinggi terhadap komponen terpenting dari peradaban itu sendiri, yakni Ketuhanan dan kemanusiaan. Namun tingginya antusiasme dan hegemoni pembangunan peradaban suatu bangsa sering kali tersalahpersepsikan. Pembangunan seolah hanya tentang materi, gedung tinggi, kemajuan teknologi, karir, dll. Padahal di satu sisi ada masalah moral yang amat besar menghadang kita semua.

Banyaknya penyimpangan generasi muda, narkoba, seks bebas, budaya hedon, tersusup sistematis ke dalam atmosfir masyarakat kita. Sekolah anak-anak kita ternyata belum maksimal menjawab amanah undang-undang dalam membangun manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Lantas kemana lagi harapan itu digantungkan? Jawabannya adalah keluarga, komponen terkecil peradaban suatu bangsa. Di sanalah fondasi harus dikokohkan. Karena apabila suatu bangsa sedang bermasalah, boleh jadi akar masalah tersebut berasal dari keluarga.

Banyak diantara kita yang menganggap bahwa berkeluarga yang diawali dengan pernikahan hanyalah salah satu fase kehidupan alamiah, sehingga seolah cukup bermodal cinta dan kerja. Tolok ukur kemapanan lagi-lagi hanya diukur dengan materi. Padahal ada bekal yang jauh lebih penting, yaitu ilmu berumah tangga. Tentang bagaimana menjadi suami/istri yang baik dan bagaimana menjadi ayah/ibu teladan yang penuh inspirasi.

Kesadaran ini harus diberikan kepada generasi muda dan para pemangku jabatan orang tua dalam keluarga. Bahwa fungsi keluarga harus hadir dan kokoh. Bahwa predikat orang tua adalah jabatan yang tak tergantikan. Banyak yang bisa menggantikan posisi kita di dunia kerja, namun tidak bagi seorang ayah dan ibu untuk anak-anaknya.

Untuk mendapatkan posisi pekerjaan tertentu, kita perlu mempersiapkan diri dengan pendidikan yang panjang. Anggaplah TK-SMA merupakan jenjang pendidikan umum, masih perlu 4 tahun di bangku universitas hingga akhirnya memperoleh ijazah dan dianggap memiliki cukup bekal untuk berkompetisi di dunia kerja. Setiap kita belajar hingga jenjang tinggi umumnya berharap agar mudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Lantas bekal ilmu apakah yang sudah kita siapkan untuk membangun keluarga yang baik?

Membangun keluarga dimulai sejak pranikah ternyata tidak bisa sembarangan. Menikah bukan sekedar tentang cinta. Menikah adalah tentang membangun generasi, membangun peradaban. Ada hak dan tanggung jawab masing-masing peran sebagai pasangan dan orang tua. Dalam fase ini hidup kita bukan sekedar tentang kita. Ada generasi baru yang akan lahir ditengah keluarga, generasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan negeri ini. Adalah hal yang fatal ketika generasi yang lahir tidak diarahkan menjadi generasi yang berkualitas. Menikah tanpa ilmu, meninggalkan duka tidak hanya bagi keduanya, namun juga bagi anak cucu dan ibu pertiwi Indonesia.

Sejak tahun 2010, angka perceraian tercatat di Kementerian Agama terus menunjukkan peningkatan. Jika dibandingkan dengan rata-rata angka pernikahan 2.3 juta per tahun, rata-rata persentase perceraian mencapai 16% setiap tahunnya. Tentu ada banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya perceraian, termasuk diantaranya karena kurangnya bekal ilmu dalam membangun rumah tangga. (republika.co.id, 2016)

Maka menyadarkan para generasi muda akan pentingnya membekali diri sebelum berumah tangga, merupakan salah satu langkah nyata untuk mengembalikan fungsi keluarga, sekaligus memperbaiki kualitas generasi bangsa dan membangun Indonesia.

Leave a Reply