Loading...
Inspiration

Menapaki Fitrah Seorang Ibu

Dokumentasi : harjunadhi

Pernyataan yang seolah terasa benar dan bijak, tak selalu “benar-benar” benar dan bijak. Contohnya pernyataan dibawah ini. Sounds good? Is there something wrong?

 

 

Saya melihat poster ini di share berulang kali oleh beberapa teman di FB beberapa hari ini, sehingga muncul di home saya. Sekilas dibaca, saya merasa kok ada yang mengganjal ya… Jadilah saya coba simpan di memori HP. Saya coba baca beberapa kali, mencoba memahami maksud pernyataannya.

Ibu yang baik adalah ibu yang bahagia, menerima dirinya apa adanya, menjadi versi yang terbaik dari dirinya sendiri. Dan mengasuh anak-anaknya dengan bahagia, tanpa penghakiman dan ego bahwa dia ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga.

Menapaki fitrah seorang ibu menurut Islam

Ibu yang baik adalah ibu yang bahagia… Baik dan bahagia, menurut siapa?

…tanpa penghakiman dan ego bahwa dia ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga. Benar dan bijak, menurut siapa?

Islam mengajari kita untuk menjadi baik dan bahagia, menjadi benar dan bijak.

Menjadi ibu yang baik dan bahagia, menjadi ibu yang benar dan bijak sesuai dengan kaidah dan prinsip dalam Islam.

Menjadi ibu yang baik dan bahagia, menjadi ibu yang benar dan bijak sebagaimana mestinya dengan menjalani fitrah kita sebagai seorang ibu.

Dan dalam fitrah kita sebagai ibu (dan istri), ada kewajiban dan hak yang harus kita tunaikan semaksimal dan semampu yang kita bisa (Lihat QS. At Taghobun [64]: 16).

Semaksimal dan semampu kita, sehingga Islam pun mengajari kita untuk tak membandingkan kondisi kita dengan kondisi orang lain, tak membandingkan kesanggupan kita dengan kesanggupan orang lain.

Ada ibu yang berkesempatan melahirkan normal, sedangkan ada yang harus melahirkan secara caesar dengan berbagai kondisinya.

Terdapat ibu yang berkesempatan memberikan ASI eksklusif, namun ada juga yang harus menambahkan sufor dengan berbagai kondisinya.

Ada pula yang berkesempatan mengasuh sendiri anak-anaknya, tetapi ada yang memerlukan bantuan orang lain untuk mengasuh anak dengan berbagai kondisinya.

Maka yang paling penting bukan sekedar menjadi ibu baik yang bahagia dengan cara menerima dirinya apa adanya, menjadi versi yang terbaik dari dirinya sendiri, menjadi ibu yang paling benar dan bijak dalam mengasuh keluarga. Yang paling penting adalah kita menunaikan kewajiban dan hak kita sebagai seorang ibu (dan istri), senantiasa belajar memperbaiki diri (tak cukup menjadi apa adanya), serta menjalankan fitrah semaksimal dan semampu yang kita bisa sebagaimana yang Allah inginkan, karena Allah yang paling tahu yang terbaik untuk makhluknya. Jadi yuk para ibu kita tapaki fitrah kita, in shaa Allah tak hanya baik, tapi bahagia, benar, bijak akan mengikuti kita. aamiin.

Oleh: @listianaica

Leave a Reply