Memaknai Ujian

Seorang lelaki yang ketika itu Allah uji dengan sakit, curhat, menghampiri seorang sahabat, Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu. Kemudia ia mulai berkata:“Bukankah Aku ini orang yang paling faqir?”

Lalu, Ibn Amr bin ‘Ash tersebut menjawab dengan tenang : “Bukankah kau punya seorang istri? Yang dapat memberikan ketenangan, kehangatan secara psikologis maupun biologis sementara lelaki lain banyak yang belum menikah?”

 “Bukankah kau memiliki rumah tinggal? Sehingga engkau terlindung dari panasnya dan dinginnya cuaca?”

 “Ya engkau benar.” Jawab lelaki tersebut menyahut.

 “Itu berarti engkau seorang yang kaya.” timpal Ibn ‘Amr, yang juga merupakan murid dari rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

“Oya Aku teringat, bahkan selain memiliki seorang istri dan memiliki rumah tinggal, Aku juga memiliki seorang pembantu.” tambah lelaki itu dengan jujur.

 “Kalau begitu engkau bukan hanya kaya, namun juga bak seorang raja!” tegas Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Mungkin di zaman kita, memiliki pembantu adalah hal yang biasa. Namun di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, memiliki pembantu adalah hal luar biasa, bahkan teranggap sudah seperti seorang raja. Jika kita amati dalam serial Film Omar, tokoh-tokoh besar musyrikin Quraisy-lah yang memiliki budak (baca: pembantu), dalam menuntaskan pekerjaan-pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan tuannya. Para pembesar kaum itu bak seorang raja.

Oleh karenanya, apabila hari ini kita mendapati ujian yang berat, pikiran kita biasanya terfokus pada ujian tersebut dan sering kemudian lalai atas nikmat-nikmat lain yang seharusnya lebih bisa untuk disyukuri. Kecenderungan manusia memang mudah kufur nikmat saat ujian datang. Banyak diantara kita, ketika sudah rajin tahajjud, berhijrah, mengerjakan amalan sunnah, kemudian mengira hidupnya akan bebas dari ujian. Padahal bukan seperti itu hakikat dari hidup dan ujian. Allah SWT justru menekankan dalam firmanNya, bahwa setiap orang beriman pasti akan diuji.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2)

Dengan meyakini firman ini, orang beriman kemudian bisa bermuhasabah. Bisa mencoba menghitung kembali, lebih banyak manakah yang Allah berikan, ujian musibah atau ujian nikmat?

Kita sejenak melihat kembali kisah Nabi Ayub ‘alayhis Salam. Beliau 18 tahun lamanya Allah uji dengan penyakitnya. Tak hanya itu, tersebab penyakitnya, ia kemudian kehilangan harta, kehilangan anak-anaknya, dan kerabat meninggalkannya. Ketika istri beliau dengan sabar membersamai, menanyakan “Wahai Nabi Ayyub, engkau kan nabi, bisa meminta kesembuhan kepada Allah. Mengapa tidak kau lakukan?”

Nabi Ayyub dengan lirih menjawab: “Aku malu meminta kesembuhan, karena Allah telah memberi karunia nikmat yang banyak”. Allah kemudian mengabadikan doa Ayyub di dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (QS. Al Anbiyaa’: 83)

Doa tersebut adalah doa Ayub di tahun ke-18 ia sakit. Betapa berbudinya, bahkan meminta kesembuhan pun beliau tidak menggunakan kalimat langsung, melainkan menggunakan kalimat sanjungan kepada Allah. Masya Allah. Maka kemudian dengan cepat Allah mewahyukan ia untuk menghentakkan kaki kemudian keluarlah air yang sejuk untuk digunakan mandi dan minum. Seketika itu pula, Nabi Ayub sembuh total seluruh penyakitnya luar dan dalam. Parasnya kembali tampan, bahkan menurut riwayat ulama, lebih tampan dari sebelumnya. Allah pun kemudian mengembalikan hartanya berlipat, dikaruniai kembali anak-anak yang banyak.

“Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al Anbiyaa’: 84)

Nabi Ayyub adalah teladan bagaimana kita seharusnya berprasangka kepada Allah dalam menghadapi ujian betapapun beratnya. Seyogyanya kita perlahan mulai memperbaiki prasangka dan cara berfikir kita bagaimana memandang ujian dan kehidupan. Sudahkah benar prasangka kita kepada Allah ketika kita mendapatkan sakit atau musibah lainnya? Sudahkah ikhtiar kita senantiasa melibatkan Allah? atau justru lupa?

Rasulullah pernah berpesan kepada kita semua : “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Ketika kita memiliki mindset bahwa hidup itu harus bahagia, harus kaya, harus senang terus, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak. Berkontemplasi, mendengarkan nasihat orang tua atau guru ngaji. Melihat kembali tentang kehidupan, sudah benarkan cara kita memandang hidup? Sembari kemudian mohonkan pada Allah untuk dapat memiliki mindset yang terbimbing oleh syariat, dengan satu keinginan yakni ridho Allah SWT.

Dengan mindset yang benar, insya Allah segala aktifitas kita kembali lebih memiliki makna. Keluarga kita menjadi lebih terbimbing, dan meyakini bersama bahwa hanya kepada Allah saja tempat berharap. Kebahagiaan hakiki adalah ketika kita dan keluarga selalu dalam bimbingan wahyu berteladankan rasulullah shalallahu alayhi wasallam.

Al-faqir ila maghfirati rabbi.

 

LPW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *