Makan untuk Hidup

Sering kita jumpai nasihat berikut, “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.” Kalimat di atas secara tidak langsung menunjukkan kaitan erat antara makan dan hidup, bahwasanya esensi makan adalah memang untuk life survival dan makan merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia. Namun demikian, tidak lantas kegiatan makan ini hanya untuk mempertahankan hidup. Ada banyak hikmah yang bisa kita petik dari sini. Berkaitan dengan aktivitas makan, berikut adalah beberapa pandangan dalam Islam yang dapat kita resapi dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pahala memberi makan. Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi makan”. (HR. Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, Ath-Thobroni). Di hadits yang lain, Nabi bersabda, “Barangsiapa yang memberi makan kepada seorang mukmin, sehingga dapat mengenyangkannya dari kelaparan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain kecuali oleh orang-orang sepertinya.” (HR. Thabrani). Suami yang menafkahi anak dan istrinya sesungguhnya ia juga telah memberi makan keluarganya, istri yang menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya juga dapat dikatakan memberi makan. Dari sini, apabila semua yang kita lakukan diniatkan karena Allah, insya Allah hal tersebut akan menjadi berkah. Dalam salah satu kajian Ustadz Adi Hidayat, beliau menyebutkan orang yang memberi makan orang lain, pahalanya akan mengalir selama orang yang diberi makan itu menggunakan energinya untuk beribadah kepada Allah. Masya Allah.
  2. Halal, thoyyib, dan tidak mubazir. Untuk kegiatan makan sehari-hari dalam keluarga, seperti keluarga lain pada umumnya, kami memilih untuk menyisihkan sebagian besar sumber daya materi, waktu, dan tenaga, untuk memasak sendiri dibanding membeli makan di luar. Tentu saja pertimbangannya adalah proses yang terjamin halal dan bersih. Kita dapat memastikan bahan masakan diperoleh dengan cara yang halal, jenisnya halal, dan bumbu-bumbu pelengkapnya pun halal. Selain itu, prosesnya juga bisa dipastikan sendiri kebersihannya serta kecukupannya. Dengan belanja bahan pangan sendiri, keluarga dapat menyesuaikan selera anggota keluarga, membeli secukupnya untuk menghindari mubazir, serta menghemat pengeluaran.
  3. Sedekah dengan membeli dagangan orang lain. Namun demikian, sesekali membeli makanan dari luar tentu tidak menjadi masalah. Justru hal ini dianjurkan pula dalam Islam, untuk membeli dagangan saudara sesama muslim untuk membantu memutar roda perekonomian umat. Selain itu, kita juga dapat membeli dagangan orang lain dengan berniat sedekah. Dalam tafsir Imam Al Qurthubi, beliau menjelaskan, ““Dia bersedekah kepada orang lemah yang masih bekerja (bedagang) dalam bentuk membeli dagangannya untuk melariskan barang dagangannya atau membelinya dengan harga yang lebih tinggi dan berbuat baik kepadanya.” Membeli dagangan orang lain untuk membantunya termasuk dalam bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan itu lebih baik daripada sedekah yang ditampakkan.
  4. Suasana saat makan. Nabi menganjurkan kita untuk bercakap-cakap saat makan bersama. Hal ini dapat dilihat dari banyak hadits yang menunjukkan Nabi dan para sahabat berbincang—bincang saat makan. Berbicara ketika makan adalah adab yang mulia karena dapat mencairkan suasana, memberikan kehangatan, dan menimbulkan kebahagiaan bagi orang yang makan.
  5. Anjuran memberi nasihat pada anak saat makan. Selain waktu di perjalanan dan waktu sakit, Rasulullah juga menganjurkan orang tua untuk menasihati anak di waktu makan. Suasana makan bersama dalam keluarga yang hangat membuat anak merasa bahagia dan hal ini mempermudah anak untuk menerima nasihat. Di sisi lain, orang tua juga dapat mengajarkan adab makan secara langsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *