Kembali ke Rumah, Kembali ke Keluarga

Baru sebulan yang lalu saya dan suami membahas tentang sebuah fenomena saat itu.

“Sepertinya sekarang ini orang-orang lebih butuh tempat nongkrong, ya.” kata suami.

“Memangnya rumahnya pada ke mana?” tanyaku menanggapi.

“Ya nggak tahu, lihat aja ga ada tempat kopi yang sepi. Setiap orang sepertinya butuh tempat berkumpul sampai malam begini.”

“Ya… apa tidak bisa berkumpul di rumah saja?” pertanyaan saya itu tetap menari-nari di kepala.

***

Mungkin masih segar di ingatan kita kalau sebulan yang lalu kehidupan sosial kita tidak berbatas. Banyak perkumpulan, pertemuan dilakukan bahkan hingga dini hari. Seakan para pelakunya tidak ada tempat untuk pulang. Pulang ke rumah hanya ketika kedai atau tempat makan itu akan tutup. Kalaupun ada yang buka 24 jam, pastilah ada yang sengaja duduk lama di sana.

Akan tetapi, lihatlah sekarang. Banyak kedai menutup usahanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Restoran cepat saji yang terkenal dengan ramainya selama 24 jam tanpa henti pun menjadi kosong tanpa pembeli yang menghabiskan waktu di sana. Jalanan cenderung lebih sepi di saat-saat tertentu. Seakan banyak orang lebih memilih di rumah ketimbang berjalan di luar mencari makan dan duduk bersenda gurau.

Efek Covid-19 ini sudah mulai terasa. Pembatasan jarak dengan orang-orang yang selama ini selalu kita temui membuat mau tidak mau kita menjadi kembali ke rumah. Kerja, sekolah, dan kegiatan lainnya, termasuk dakwah dikembalikan ke rumah. Semua terhubung hanya melalui jejaring maya, tanpa adanya kontak fisik dan pertemuan tatap muka. Rumah menjadi tempat yang dulunya mungkin sepi penghuni, hanya menjadi tempat persinggahan tidur para pekerja sibuk, sekarang menjadi tempat berkumpulnya semua anggota keluarga tanpa bisa kemana-mana. Rumah menjadi satu-satunya tempat yang dianggap paling aman dibanding tempat umum lainnya.

Hikmah di Balik Kesulitan

Kembali ke rumah artinya kembali pada keluarga. Sebuah hikmah yang kita bisa petik dari riuhnya wabah yang sedang melanda negeri. Jika selama ini ayah, maupun ibu, hanya bisa bertemu putera-puterinya di kala menjelang tidur, maka kali ini diberi kesempatan oleh Allah untuk mendampingi mereka selama 24 jam. Kalau selama ini suami-istri hanya bisa bertemu seminggu-dua minggu sekali karena jarak tempat kerja dan rumah, malah bisa berkumpul kembali karena diberi kesempatan untuk kerja dari rumah. Semua pola yang terbentuk selama ini menjadi berubah. Perubahan ini pun tidak terjadi dalam waktu yang sebentar. Seperti yang sudah diumumkan oleh BNPB kalau status darurat telah ditetapkan hingga tanggal 29 Mei 2020.

Kondisi ini tak mungkin terjadi kalau Allah tak menurunkan virus yang kasat mata. Membuat yang tadinya tercerai-berai jadi berkumpul lagi dalam satu naungan. Sebuah kesempatan langka yang seharusnya membuat kita belajar kembali memaknai arti keluarga sebenarnya. Apabila selama ini suami-istri masih mengkotakkan diri dalam peran masing-masing, ini saatnya melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang sesungguhnya dilakukan oleh setiap pasangan dalam kesehariannya.

Istri dapat melihat pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh suami. Sebaliknya, suami pun melihat cara istri mengasuh anak-anaknya. Ini bisa menjadi bahan untuk introspeksi, sudah sejauh apa kita menghargai peran masing-masing. Sudah pulakah kita membantu dan mendukung apa yang dilakukan pasangan selama ini?

Sebagai ibu, selama ini kita mungkin tidak terlalu mengambil pusing dengan pendidikan anak setelah menitipkannya di sekolah-sekolah terpilih. Namun, di kondisi sekarang kita dihadapkan kembali mengenai pentingnya peran ibu dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Sesuatu yang mungkin sudah mulai terlupakan sebagai seorang orang tua, bahwa pendidikan terbaik ada di tangan orang tua. Sebagai orang tua kita tetap harus mendampingi anak-anak, meskipun mereka sudah berada di jenjang sekolah. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berhenti saat mereka sekolah, pendidikan akan terus berkelanjutan selama mereka di rumah sekalipun.

Kemudian sebagai ayah, kita bisa mengamati kembali perkembangan anak-anak yang mungkin luput dari mata kita selama ini. Isu mengenai fatherless, ayah yang ada tetapi seakan tiada, sudah menjadi masalah penting di negara kita ini. Jadi, dengan kebijakan bekerja di rumah membuat ayah yang selama ini lebih banyak menenggelamkan dirinya dalam urusan kantor, akan lebih punya kesempatan untuk berdekatan dengan anak-anak. Kalau selama ini waktu yang dihabiskan untuk bermain bersama anak-anak sangatlah minim, maka inilah kesempatan untuk menebus semua itu. Sebab ayah yang dibutuhkan oleh seorang anak bukanlah ayah yang memberikan harta, sebaliknya ayah yang bisa menjadi sosok yang membersamai mereka hingga kelak dewasa.

Hikmah-hikmah ini tentu bisa didapatkan dengan kembali merenungi, apa yang selama ini belum dilakukan sebagai seorang suami, istri, ayah, ibu, maupun sebagai anak dari orang tua kita.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *