Loading...
InspirationMarriage

Jenis surga apa yang engkau cari?

Zahra panggilannya, seorang istri sekaligus ibu yang memiliki kemampuan akademis dan kemampuan bersosialisasi begitu cemerlang. Ia telah menyelesaikan gelar doktornya tepat sebulan sebelum pernikahannya dengan Thariq. Singkat cerita, almarhumah ibunya yang seorang professor meninggal dunia ketika Zahra masih remaja, ini yang menyebabkan hubungan emosional Zahra dan ayahnya terjalin begitu dekat. Semua ‘curhat’, ia sampaikan pada ayahnya.
 
Suatu hari, terjadi lah diskusi ringan antara Zahra dan ayahnya tentang pandangan ayahnya mengenai aktifitas seorang istri di luar rumahnya..
 
“Ayah, cerita dong tentang awal pernikahan ayah dulu, ketika ayah meminta Almarhumah Ibu untuk meninggalkan aktivitas sosialnya, dan fokus membesarkan kami anak-anaknya, apa respon beliau?” Tanya Zahra.
 
Sambil mengingat, ayahnya dengan pasti menjawab: “beliau ikuti permintaan ayah, tanpa tapi..dan sebagai hasil keikhlasan beliau meskipun saat ini ibu sudah meninggal, beliau telah sukses mendidik kalian, Ibu berhasil memiliki tiga perusahaan dan tiga orang doktor yang semuanya hafal Quran, dari hasil didikannya”
 
Zahra pun terdiam, sejenak kemudian ia mulai menceritakan isi hatinya kepada ayah yang begitu dikasihinya.
 
“Ayah, Zahra begitu kagum sama Ibu, dan ayah juga. Ayah dan Ibu sama-sama mendapat gelar professor tapi tetap teguh menaati syariat. Salut, Yah. Nggak banyak professor zaman sekarang yang seperti itu. Ibu pun dengan ikhlasnya mundur dari kegiatan sosialnya untuk mengurus kami. Alhamdulillaah sekarang kami mendapat gelar doktor, ini pun hasil doa dan usaha beliau. Bahkan kedua Kakak Zahra dengan sangat sukses menjalankan tiga perusahaan mereka yang luas manfaatnya untuk masyarakat. MashaAllah.”
 
Ayahnya tersenyum sambil lirih berkata “Alhamdulillaah, itulah perjuangan ibumu. Dengan keikhlasannya menjalankan permintaan Ayah, beliau menjadi madrasah terhebat bagi keluarga kita. Juga seorang istri yang begitu berbakti pada Ayah. inshaAllah Ayah beri ridha ayah ketika beliau meninggal..”
 
“MashaAllah, dengan izin Allaah, apabila seorang suami memberikan ridhanya ketika istrinya meninggal, maka dia akan masuk surga ya, Ayah? Menurut riwayat Tirmidzi” sambung Zahra.
 
“InshaAllah, Nak…” Jawab ayahnya dengan suara bergetar.
 
“Yah, jujur Zahra terkadang ingin terus berkiprah di kampus, dan juga berkiprah diberbagai bidang, seperti ketika sebelum menikah dulu, tapi semenjak ada anak-anak sebagai amanah Allaah, Mas Thariq lebih menginginkan Zahra ada di Rumah saja, sebagai madrasah keluarga, persis seperti permintaan ayah terhadap Ibu.” ungkap Zahra dari hati terdalamnya.
 
Ayahnya memandangnya dengan tersenyum. Cukup lama beliau terdiam. Sambil akhirnya melanjutkan nasihatnya.
 
“Bismillaah Nak, semoga Allaah mudahkan engkau untuk meraih ridha suamimu, meraih surgaNya. Jalan menuju surga memang tidak selalu indah. Buka kembali kisah para nabi kita bagaimana kehidupan mereka untuk meraih surganya Allaah. Rasulullah sebagai teladan kita pun, melalui berbagai ujian yang salah satunya adalah kefakiran sebagai jalan beliau mencapai surga. Ayah mau mengingatkan sedikit, meski Ayah yakin, kamu sudah berulang kali membaca hadits ini:
“Apabila perempuan mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘masuklah ke dalam surga melalui pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”
Setelah nasihat tersebut, beliau kemudian bertanya. “Jenis surga apa yang hendak kau cari, Nak? Karena surga bagi seorang istri sudah dapat dicapai dengan ada di rumahnya sendiri, inshaAllah, tanpa harus ke repot-repot mencari ke tempat lain. Begitu indah syariatNya memuliakan wanita dan suamimu sangat mengerti itu.”
 
“Jangan sampai yang fardu ain tergantikan dengan yang bersifat fardu kifayah” lanjut beliau.
 
“Maksudnya bagaimana ayah?” terka Zahra.
 
“Tugas seorang istri sebagai syarat memasuki surga dari pintu manapun, ayah anggap merupakan sesuatu yang fardu ain-wajib dikerjakan tidak bisa diwakilkan oleh orang lain, sedangkan tugas yang sifatnya pengabdian terhadap sosial, ayah anggap itu adalah fardu kifayah. Kamu tetap bisa mencetak para professor, bahkan pengusaha sukses yang memiliki manfaat untuk orang banyak, meski dengan tetap berada di rumah.”
 
“Hal seperti ini memang tidak mudah, bahkan sering dianggap remeh pada jaman modern seperti sekarang, Nak. Tapi dalam Islam, seorang ibulah madrasah keluarga yang akan mencetak para orang hebat kelak.
Entah apapun keahlian yang akan dipilih anak-anakmu nantinya, tapi yang utama, kalimat tauhid dan keinginan untuk menolong agamanya tidak akan tergadai dan terlupakan. Dan itu nantinya merupakan hasil didikan dari seorang madrasah keluarga” Ujar Ayah.
 
“Alhamdulillaah, terima kasih untuk nasihatnya Ayah.  Ayah adalah seorang yang selalu Zahra jadikan tempat bercerita setelah Ibu tiada. Karena Zahra tahu, kata-kata tulus Ayah, akan membuat Zahra semakin cinta sama Allaah dan mengikis ego diri” lanjut Zahra sambil memeluk erat Ayahnya.
Leave a Reply