Loading...
InspirationMarriageParenting

Indahnya Menyusui, Syariat Titipan Illahi

Perjalanan hidup ini tak lain adalah perjalanan dari Allah menuju Allah. Karena pada hakekatnya tugas utama seorang hamba adalah untuk beribadah kepada Allah. Namun, kalimat sederhana tersebut ternyata sangat mungkin untuk tergeser hingga terlupakan. Dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti kesibukan yang setiap hari dikerjakan yang mana hal ini sifatnya beragam antar manusia yang satu dengan yang lainnya.
Satu profesi mulia yang belakangan ini saya geluti, yaitu Ibu Rumah Tangga. Perlu diakui, profesi tersebut tidak semudah yang pernah saya bayangkan, in shaa Allaah tidak lebih ringan dari seorang CEO sebuah perusahaan. Pengulangan yang dikerjakan dalam profesi ini pun dapat dibilang, tingkat tinggi. 😀
Bagi yang menggeluti profesi ini lebih dulu dari saya, pasti sudah paham betul maksudnya. Jadwalnya mungkin berbeda, tapi in shaa Allah content yang ada mirip, ya Bunda?
“Projects initiation” di pagi hari dapat dimulai dengan sapu singkat ruang sekitar atau memilah cucian hari itu lalu dengan semangat menuju “morning briefing” menyambut buah hati dan ayahnya dari istirahat malam hari, juga untuk memastikan suami dan anak tersiapkan kebutuhannya, seperti sarapan, baju yang akan digunakan dan lain sebagainya. Lalu dilanjutkan dengan “coffee break” memastikan bagi yang sudah memilki buah hati, ananda tercinta siap dengan cemilan sehatnya, bisa homemade snacks apapun yang disukainya, dilengkapi dengan buah ataupun minuman, seperti jus kurma (ini kesukaan Abdurrahman, putra saya). Setelah “coffee break” selesai dan raja maupun ratu kecil di rumah sudah tertidur, maka ada sesi “optimization projects” seperti menyiapkan makan siang, bisa juga diselingi dengan melanjutkan “projects initiation” yang belum terselesaikan di pagi hari tadi seperti mengepel lantai, mencuci dengan tangan untuk pakaian tertentu, dll. Dan aktivitas tersebut akan terus berulang selama tujuh hari dalam sepekan, sepanjang pekan yang hanya Allaah yang tahu.
Aktivitas tersebut dapat diselingi “outbond atau excursion” di hari tertentu. Tidak perlu mewah, aktivitas sederhana pun bisa jadi penambah inspirasi seperti beli cemilan kesukaan ataupun hanya keliling daerah tertentu di Malang untuk menikmati hembusan angin serta menghirup udara sejuk nan segar. Ditambah dengan memandang eloknya langit biru plus gunung yang nampak dibaliknya. Maa Syaa Allaah, la quwwata illa billaah.
Seru? Seru sekali! apalagi kalau tanpa Asisten Rumah Tangga dan memiliki buah hati lebih dari seorang. Bisa terbayangkan ya beragam dan serunya aktivitas yang ada.
Hehe.Semoga Allaah berikan kekuatan jasmani serta rohani untuk para Ibu, khususnya para Ibu Rumah Tangga dan juga dijadikan hamba-hamba yang penuh kesabaran juga keikhlasan, demi meregup manisnya reward kehidupan di alam yang kekal kelak. Semua untuk Allaah. Itu adalah kata kunci untuk dapat terus melangsungkan segala kegiatan yang penuh pengulangan tersebut dengan ikhlas. Bukan demi pujian “wah rumah Ibu Fulana selalu bersih dan rapi ya”, “Masakan Bu Fulana pasti selalu lezat tiap harinya” atau “Istri aku pagi-pagi sudah cantik sekali” dan berbagai macam pujian lainnya, yang hanya berlangsung beberapa detik ketika diucapkan oleh si pemuji.
Tentunya masih jauh diri ini dari kategori expert dalam hal ini, masih perlu terus membenahi diri. Dan tulisan ini khususnya sebagai nasihat untuk diri sendiri. Bisa dibayangkan kalau melakukan segala aktivitas, khususnya yang sifatnya penuh pengulangan, tanpa didasari niat untuk menggapai ridha Allaah. Jenuh sudah pasti. Melakukannya hanya dengan ala kadarnya (yang penting check list ticked, hanya sebagai rutinitas pun) mungkin terjadi.
Izinkan saya untuk membagi ilmu saya yang sedikit ini, semoga berkenan dan bermanfaat.
Diriwayatkan bahwa, ‘Amr bin Abdillah berkata kepada istrinya yang sedang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui bayimu seperti hewan menyusui anaknya. Hewan pun menyusui anaknya karena kasih sayang. Akan tetapi, susuilah bayimu dengan niat mengharap ridha Allaah dan agar dengan air susumu ini hiduplah seorang makhluk yang menauhidkan Allaah dan beribadah kepada-Nya.”[1]
Dengan mengharap ridha-Nya, hasil yang akan tercapai pun akan optimal, dengan izin Allah.
Salah satu kegiatan yang penuh pengulangan bagi para ibu, contohnya adalah menyusui. Para bunda yang dicintai Allaah yang baru saja melahirkan bayinya, mungkin sempat terlintas betapa panjang dan lamanya periode menyusui (selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan) sebagaimana firman Allahu Subhanahu wa Ta’ala dalam Quran (Surah Al-Baqarah (2) :233).
Dua puluh empat bulan, setiap hari selalu ada sesi menyusui langsung dari payudara Ibu.
Aktivitas ini ternyata selain merupakan syariat Rabbani dan keadilan Ilahi untuk bayi, juga memiliki banyak hikmah yang disebutkan oleh para dokter, antara lain:
  1. Si bayi meminum susu yang sangat bersih dan higienis;
  2. Tidak dingin, juga tidak panas;
  3. Selalu ada setiap saat;
  4. Tidak rusak karena disimpan;
  5. Sesuai dengan lambung si bayi;
  6. Memenuhi segala kebutuhan gizi bayi;
  7. Membentuk sistem imun bagi bayi dalam melawan kuman penyakit;
  8. Minum susu langsung dari payudara ibu mencegah obesitas bagi ibu dan anak;
  9. Minum susu langsung dari payudara ibu menimbulkan kasih-sayang dan memperkuat ikatan antara ibu dengan anaknya.[2]
Dokter al-Baladi mengatakan, “ASI lebih cocok untuk semua bayi dibandingkan dengan susu yang lain selama sang ibu tidak sakit atau ada penyebab lain yang dapat merusak kualitas air susunya.”[3]
Beliau juga menambahkan bahwa dalam ASI terdapat, “Keselamatan, manfaat dan menjaga kesehatan bagi ibu dan anak.” Dengan pernyataan beliau tersebut, kita dapati bahwa dokter al-Baladi telah mendahului para dokter zaman modern ini dalam menetapkan bahwa menyusu dari payudara dapat mencegah si ibu dari berbagai macam penyakit yang antara lain, kanker payudara.
Di era dimana teknologi terus berevolusi seperti sekarang ini, pemikiran manusia pun terkena dampak dari evolusi tersebut dengan mulai menciptakan susu kemasan juga berbagai alat untuk dapat membotolkan ASI, apapun itu istilahnya. Akan tetapi seorang Muslim yang taat dalam menjalankan syariat Islam tidak akan merasa perlu untuk mengganti ASI dengan susu kemasan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Al-Qur’an mengajak sang Ibu untuk selalu menyusui bayinya dari air susunya dalam keadaan sesulit apa pun, hal ini sebagaimana dituturkan oleh DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam buku beliau Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl.
 Indahnya syariat Islam in shaa Allaah juga akan memberikan berbagai manfaat juga keindahan bagi siapa yang bersedia untuk sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat).
Jangan biarkan logika titipan Allaah ini bebas tanpa aturan, dengan mengajak mu, wahai diri, untuk “kami dengar, tapi nanti dulu dipikir-pikir dulu deh ya mau taat apa enggak”. Semoga Allaah selalu menjaga kita untuk selalu ada di atas agama-Nya, membela agama-Nya, kitab suci-Nya, hingga mengakhiri usia kita dengan husnul khatimah sebagai seorang hamba yang taat akan syariat dan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Allahumma aamiin.
Allahu a’lam bishawab.
Tulisan seorang hamba Allaah dengan keterbatasan pengetahuannya, yang selalu memohon ampunan, rahmat, taufiq dan hidayah-Nya dalam menjalankan amanah menjadi seorang muslimah, istri dan ibu.
Ummu Abdurrahman Faqih Nasrullah
Malang, Jummuah 27 Muharram 1438H.

 

Referensi:
Prophetic Parenting, karya DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid (judul asli: Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl.
[1] NashÎhatul MulÝk, karya al-Mawardi, halaman 166.
[2] Makalah Ihtimâmul Islâm bi Taghdziyyati ath-Thifl, karya Dr. Faruq Musahil, Majalah al-Ummah al-Qathariyyah, edisi 50 tahun 1405H.
[3] TadbÎrul Hubalâ` wal Athfâl wash Shibyân, karya Ahmad bin Muhammad bin Yahya al-Baladi, tahqiq oleh Dr. Mahmud al-Hajj Qasim Muhammad, Departemen Tsaqafah Iraqiyyah, halaman 186.
Leave a Reply