Loading...
Inspiration

Bencana dan Keluarga

Akhir-akhir ini Indonesia tertimpa banyak bencana alam, mulai dari Lombok, Sulawesi Tengah, hingga Banten dan Lampung. Keseluruhan bencana alam tersebut menimbulkan korban yang tak sedikit, baik korban jiwa maupun luka-luka. Sebagian mereka ada yang kehilangan ayahnya, ibunya, anaknya, atau bahkan semuanya. Kita semua sepakat bahwa kematian anggota keluarga yang tercinta adalah salah satu ujian berat dalam hidup.

Oleh karena itu kita sebagai saudara seiman, sebangsa dan setanah air wajib untuk ikut serta meringankan beban penderitaan para korban. Kita bisa mengupayakan bantuan dana, fisik dengan menjadi relawan, atau minimal doa. Kepada para korban, semoga Allah memberikan maghfirah, ampunan dan ganjaran terbaik di sisiNya, serta menabahkan keluarga yang ditinggalkan.

Bencana dan keluarga adalah dua entitas yang sangat erat hubungannya. Tak hanya hari ini, sejak zaman dahulu telah kita dengar kisahnya bagaimana Nabi Nuh kehilangan sebagian keluarganya tersebab banjir dan tenggelam. Nabi Syuaib dan Nabi Luth juga demikian, kehilangan keluarga dan kaumnya karena bencana gempa dan hujan batu. Di zaman Nabi Hud pernah terjadi bencana angin yang mematikan, dan di zaman nabi Muhammad menurut riwayat Bukhari Muslim,

“Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung bergoncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.”

Sebagai seorang muslim, peristiwa bencana hari ini seyogyanya kita sikapi dengan penuh keimanan dan kebijaksanaan. Kita meyakini bahwa segala yang terjadi adalah kuasa Allah, namun lebih bijak lagi jika kita meyakini bahwa bencana ini adalah peringatan dari Allah untuk membawa kita intropeksi diri agar semakin dekat kepadaNya. Ibnu Mas’ud berkata ketika terjadi gempa, dalam Tafsir At-Thabari: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah menginginkan kalian untuk kembali, maka kembalilah padaNya”. Jika dengan bencana ini tidak membuat kita sadar dan kembali, lalu dengan cara apa lagi Allah mengingatkan?

Dari isyarat Nabi shalallahu alayhi wasallam di atas bisa kita pahami bahwa, sesungguhnya bumi tak layak bergoncang atau terjadi bencana jika masih ada seorang nabi, orang-orang jujur, dan orang-orang yang syahid. Maka hari ini jika nabi telah tiada, yang mampu kita pelihara adalah menjadi orang jujur dan syahid. Yaitu orang yang ikhlas dan amanah dalam perjuangan kebaikan di manapun bidangnya dengan tujuan utama yaitu beribadah sungguh-sungguh mengabdi kepada Allah. Mari kita tanamkan kepada keluarga kita agar senantiasa memelihara sifat-sifat ini: jujur, ikhlas, amanah (sungguh-sungguh) dalam setiap urusan dan menjadikan semua aktifitas dengan tujuan ibadah, bukan duniawi semata. Jika manusia saja sangat menyukai sifat-sifat ini, apalagi Tuhan?

Sifat-sifat ini tak ternilai harganya dan tak mudah dalam membangunnya. Namun sifat ini membawa banyak manfaat, keberuntungan dan kebaikan bagi pelaku maupun masyarakat. Segala urusan jika ditegakkan dengan kejujuran dan dilaksanakan dengan amanah, pasti hasilnya baik. Jika orang lain tahu kita jujur dan amanah, maka orang pun tak segan membantu kita ketika mendapati kesulitan. Oleh karenanya sangat penting untuk kita membudayakan sifat-sifat ini dalam lingkungan keluarga.

Apabila sekeluarga mampu menjaga sifat-sifat tadi, maka hidup akan tenang dan berkah. Kemudian kita ajak teman-teman kita untuk membiasakan sifat-sifat ini ke dalam segala aktifitas. Sehingga apapun yang kemudian menimpa kita, termasuk bencana yang merenggut jiwa, kita meninggal dalam keadaan beramal shalih. Justru bencana dan musibah terbesar adalah apabila kita menjumpai maut dalam keadaan bermaksiat kepada Allah. naudzubillah. Sebab, akan berakibat kepada kesengsaraan di akhirat kelak. Sungguh tak terbayang betapa sakitnya cobaan dan musibah ini. Oleh karenanya, seyogyanya sekuat tenaga kita upayakan menjaga sifat-sifat baik seperti yang diuraikan di atas, sehingga mengakar dan menjadi kebiasaan setiap waktu. Ini adalah wujud ikhtiar dari sisi spiritual, karena maut bisa menjemput kapan saja dengan sebab yang tak terduga.

Di sisi lain, secara rasional sebagai manusia juga perlu ikhtiar maksimal dalam hal kesiapan dan kapasitas diri menghadapi bencana alam. Salah satu hal yang banyak diingatkan adalah pentingnya menyediakan emergency bag yang dapat segera dibawa sewaktu-waktu. Emergency bag atau tas darurat ini berisi barang-barang dasar untuk bertahan hidup selama beberapa hari, seperti pakaian, makanan, minuman, serta obat-obatan, juga barang-barang pendukung yang dapat membantu dalam keadaan darurat seperti gunting, tali, lakban, dan lain-lain.

Selain itu, dalam emergency bag juga perlu dilengkapi dengan dokumen/kartu identitas diri, surat atau pesan penting (semacam wasiat) untuk keluarga. Ini yang mungkin jarang kita perhatikan. Hal ini penting agar keluarga yang ditinggalkan sewaktu-waktu mendapat petunjuk tentang urusan-urusan yang mungkin wajib diselesaikan sepeninggal kita. Bahkan di era sosmed ini, mungkin perlu juga password akun-akun tertentu kita, dishare ke orang terpercaya/keluarga agar kemudian hari bisa dihandle jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada akhirnya manusia memang hanya bisa berencana dan Allah-lah yang berkehendak, namun niatkan semuanya sebagai ikhtiar kita untuk dapat terus beribadah kepadaNya. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari segala bencana, mara bahaya yang berakibat pada kesedihan dan kesengsaraan dunia-akhirat. Wallahu’alam bishawab

Oleh: Agastya Harjunadhi dan Avida

Leave a Reply