Belajar “Berupaya Semampumu” Dari Si Kecil

Dalam kajian yang lalu, Ustadz membahas tentang konsep mastatho’tum, berupaya semampumu, sesuai dengan batas kemampuan. Membuka pembahasan tentang konsep ini, beliau mengisahkan tentang Syekh Abdullah Al Azzam,

“Syekh Abdullah Al Azzam pernah ditanya oleh murid beliau. Yaa Syekh apa itu mastatho’tum? Lantas Shekh Abdullah Al Azzam mengajak muridnya ke lapangan dan menyuruh mereka untuk lari mengelilingi lapangan, semampu mereka. Semua murid berlari mengelilingi lapangan hingga letih dan satu per satu berhenti dan menepi. Sheikh Abdullah Azzam masih terus berlari sekuat tenaga mengelilingi lapangan hingga beliau jatuh pingsan. Setelah sadar kembali, beliau berkata “Inilah yang di maksud dengan mastatho’tum. Kita berusaha atau beriktihar semaksimal mungkin sampai Allah Ta’ala yang mengakhiri usaha kita”

MashaAllah, sebuah pengingat yang begitu dalam dan bermakna untuk muhasabah diri. Dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan, setiap pekerjaan yang kita jalani, setiap tugas yang kita kerjakan, apakah sudah mastatho’tum? Sudahkah kita mengupayakan yang terbaik semampu kita?

Dan sayapun mendadak teringat drama yang seringkali terjadi menjelang tidur. Ketika si kecil masih ingin dan kekeuh bermain, menyelesaikan rakitan lego atau puzzle nya, meski matanya sudah sangat sangat terlihat mengantuk. Dia berupaya untuk tetap bangun karena ingin menyelesaikan “tugas”nya. Terkadang, kami tetap memintanya untuk tidur. Ada kalanya si kecil manut untuk tidur. Tapi terkadang dia jadi menangis karena merasa dipaksa untuk tidur. Tak jarang, sejak jam 21.30 kami sudah meminta tidur. Namun putra kami tetap menuntaskan “pekerjaannya” itu. Tak jarang ia meminta di usap-usap punggungnya (kadang karena gatal) atau dikipas-kipas. Sambil di usap, sambil mengaji, tak lama dia pun terantuk-antuk tidur dengan sendirinya.

Saya pun mengingat ketika awal-awal si kecil belajar berjalan di usianya yang terhitung belasan bulan. Setiap kali jatuh, dia akan bangun lagi dan lagi. Sesekali menangis, tapi dia tidak berhenti sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari. Bukankah fitrah anak-anak memang seperti itu adanya? Bahkan kita mengenal sebuah peribahasa “ketika masih kecil, di kepala kita merasa tidak ada yang tidak mungkin.. semua mungkin” . Kini setelah dewasa, nilai itulah yang mungkin perlu kita tumbuhkan kembali dengan konsep “mastatho’tum”

Mari terus memupuk dan menanamkan perasaan itu. Bahwa setiap apa yang terjadi, dalam kehidupan di dunia ini, semuanya mungkin untuk diupayakan. Tentu dengan syarat upaya itu adalah semaksimal yang kita bisa/anak-anak kita bisa. Dengan mindset ini, anak-anak kita akan memiliki modal penting dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.

Jangan sampai menjadi orang tua yang diselimuti perasaan takut, kemudian melarang-larang anak-anak kita mencoba segala sesuatu yang ia inginkan. Anak-anak hanya butuh didampingin dan diarahkan. Jangan sampai karena perbuatan kita membonsai segala imajinasi keinginan yang ia mimpikan untuk tercapai.

Kami bersyukur mendapat karunia putra yang kritis, bahkan menurut kami teramat kritis. Sebab segala sesuatu ia selalu menanyakan tentang alasan. Kenapa begini, kenapa begitu. Khususnya tentang keinginannya yang banyaaak sekali dalam sekali waktu. Sebagai orang tua yang faham bahwa tak mungkin semua itu ter(di)turuti, maka kami memahamkan bahwa hidup itu proses, termasuk dalam meraih semua keinginan itu butuh proses dan usaha. Ada yang disegerakan untuk diberikan, ada yang nanti, besok, atau di usia-usia tertentu melalui proses. Dengan begini ia memahami agar menuntaskan segala proses dan syarat dalam meraih mimpi, sekaligus belajar tentang konsep waktu.

Ya Allah, terima kasih atas pengingat ini. Semoga Engkau senantiasa kuatkan kami untuk selalu “berupaya semampumu”. Dan sejak saat itu, kami sepakat untuk tidak menggores daya juang si kecil, kami ingin putra kami terjaga fitrahnya, senantiasa berupaya yang terbaik.

Jazaakallah khairan nak, terima kasih sudah mengajari dan mengingatkan abi dan ummi untuk terus berupaya semampu kami, mempupuk mastatho’tum dalam diri. Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *