Loading...
Inspiration

Bahagianya Memiliki Anak?

Momen bahagia yang paling dinanti bagi setiap pasangan muda yang baru menikah adalah momen garis dua. Iya. Momen ketika alat tes kehamilan berbentuk persegi panjang itu menunjukkan garis merah sebanyak dua buah, pertanda ada hormon kehamilan terdeteksi. Siapapun pasangan itu, sesulit apapun kondisi hidupnya, pastilah normalnya mereka akan berbahagia mendapatkan berita kehamilan ini. Yah, sudah sunatullahnya.

Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum: 21)

Namun apakah benar memiliki anak itu merupakan sebuah kebahagiaan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita coba tilik yuk hal-hal sulit dan mendebarkan yang pasti dihadapi pasangan suami istri mulai dari fase kehamilan hingga membesarkan dan mendidik sang buah hati.

1. Hamil itu dalam keadaan payah
Ini fase awal kesulitan pertama yang pasti akan dirasakan setiap pasangan. Meskipun yang hamil hanyalah istri, tentunya keadaan payah istri berdampak langsung pada kondisi suami. Dimana suami harus selalu siap siaga menjadi tangan dan kaki istri tatkala istri membutuhkan bantuan. Tak jarang suami harus rela off dari kantor disaat istri ternyata hanya mampu bedrest efek dari kehamilannya. Jika pun ada istri yang mampu melewati fase kehamilannya dengan mudah, paling tidak keadaan payah yang pasti dihadapi adalah, tidak bisa tidur dengan gaya bebas apalagi tidur tengkurep. Betul ibu-ibu? Itu sulllit! 😆

2. Melewati sarapan dengan ceremonial ‘threw up’
Morning sickness yang hampir menimpa semua ibu-ibu hamil terutama dikehamilan trimester pertama menjadi kesulitan kedua yang pasti akan dihadapi setiap pasangan suami istri. Ini tampaknya akan menjadi fase sulit bagi para Bapak yang memiliki tingkat kejijikan cukup tinggi. Dan tentunya fase sulit juga untuk para calon ibu karena rasa mual apalagi diikuti ceremonial threw up alias munt*h. Mendebarkan bukan ketika setiap pagi kita akan memulai sarapan dengan ceremonial threw up ini 😅

3. Melahirkan
Melahirkan itu merupakan peristiwa penting yang mempertaruhkan 2 nyawa. Nyawa sang Ibu dan sang bayi. Menghadapi fase ini tentunya sulit dan tak bisa dihindari. Karena fase ini fase dimana satu-satunya jalan untuk melihat sang buah hati. Fase paling mendebarkan dan mengundang rasa H2C (harap-harap cemas).

4. Anak sakit
Ga ada orang tua yang menginginkan anaknya sakit. Namun anak sakit merupakan fase natural yang mana setiap anak akan mendapatkannya sebagai sistem tubuh yang selalu memperbarui tingkat imunitasnya.

5. Perbedaan Pendapat
Menghadapi anak yang sudah memiliki pola fikir sendiri tentu tidak mudah. Apalagi jika pola fikir tersebut kita ketahui kurang tepat. Salah satu jalan agar anak memiliki pola fikir yang tepat adalah dengan mengajak diskusi. Tapi tak jarang perbedaan pendapat dalam diskusi malah membuat situasi memanas. Hmmm …

Nah, melihat 5 poin umum mengenai hal-hal sulit yang mendebarkan ini, kira-kira dimana ya letak kebahagiaan memiliki anaknya? Belum lagi ketika 5 poin ini dijabarkan lebih mendetail kasus perkasus, wah jangan-jangan malah bikin semua orang jadi enggan untuk memiliki anak.

Sebagai umat beragama, tentunya menjalani kehidupan yang merupakan  sebuah karunia dari Allah Subhanahuwa Ta’ala bukan sekedar untuk memperoleh kebahagiaan versi kita. Karena disetiap detail kehidupan kita telah Allah Subahanahuwa Ta’ala tetapkan arah dan tujuannya. Dimana ketika kita menjalankan sesuai arah tersebut, maka kita akan memperoleh kebahagiaan hakiki. Salah satu arahan dari Allah Subhanahuwa Ta’ala yaitu memiliki anak.

وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ

“ …dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu (yaitu anak)” [Al-Baqarah/2 : 187]

Dalam mencapai kebahagiaan dalam memiliki anak ini tentunya tidak mudah. Perlu usaha dan kesungguhan serta ilmu sehingga kita mampu menjemput kebahagiaan yang sempurna dalam memiliki anak. Tak sekedar kebahagiaan semu karena telah memiliki keturunan seperti halnya orang-orang, tapi melebihi itu.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِى الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : أَنَّى (لِي) هَذَا؟ فَيَقُالُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata : telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya ada seseorang [1] yang diangkat (ditinggikan) derajatnya di jannah (surga)”. Lalu ia bertanya (terheran-heran), “Bagaimana aku bisa mendapat ini (yakni derajat yang tinggi di surga)?”. Dikatakan kepadanya, “(Ini) disebabkan istighfar (permohonan ampun) dari anakmu (kepada Allah) untukmu”.

Maka ketika kita berhasil mendidik anak-anak kita menjadi anak yang soleh, maka kita sudah selangkah menuju bahagia. Kenapa? Karena anak yang soleh akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya.

 

Jadi, bahagiakah memiliki anak? Iya, tatkala kita mengiringinya dengan usaha maksimal dalam mendidik mereka untuk menjadi soleh.

Kebahagiaan bukanlah perihal terbebas dari kesulitan sama sekali. Kebahagiaan juga bukanlah hidup tanpa memiliki masalah sedikitpun. Namun kebahagiaan adalah momen dimana segenap kesulitan untuk mendapatkan rasa bahagia itu mampu kita taklukkan.” (MP, 2017)

Yuk! Bahagiakan diri dengan menjadi orang tua soleh untuk anak yang soleh. 😊

Leave a Reply