Seri Bumi dan Makanan – Ultra Processed Food: Jalan Pintas, yang terkesan Pantas.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kegiatan manusia hari ini amat dipermudah dalam berbagai hal, tidak terkecuali urusan makananan. Segala sesuatu yang bersifat instan, me mbuat manusia merasa lebih efesien dalam  menjalani segudang aktifitasnya.

Slogan “Mudah, Cepat dan Murah”, sungguh sangat menggiurkan konsumen. Coba saja kita lihat di sepanjang rak-rak supermarket atau bahkan warung kelontongan beraneka ragam makanan dan minuman cepat saji. Istilah ringan untuk makanan maupun minuman (soft drink) ini sungguh mengecoh konsumen. Bagaimana mungkin makanan yang dikategorikan ultra/heavy processed bisa dikatakan ringan/lembut? Makanan yang tinggi sodium, lemak trans, gula, pewarna, pengawet dan perasa bersatu padu menyuguhkan kenikmatan lidah yang sesaat, namun meninggalkan rasa rindu yang berkepanjangan alias addict. Ya, Indra perasa kita dibuat bergantung atas produk-produk cepat saji tersebut di atas. Yang mana sejatinya, kita telah kehilangan kebebasan indra perasa.

Pernahkah kita addict atau ketergantungan dengan real food? Seperti sayuran dan buah-buahan? Kalaupun iya, coba cek kembali bagaimana cara kita mengolahnya. Jangan-jangan sayuran yang penuh gizi itu kita sandingkan dengan MSG yang ujung-ujungnya tidak thayyib untuk tubuh kita dan keluarga.

Mari sejenak menilik ke belakang. Pada masa revolusi industri tahun 1890 di Great Britain, merupakan titik awal lahirnya processed food. [1] Pertama, para buruh pabrik harus bekerja lebih lama sehingga membuat mereka kesulitan menyiapkan makanan yang layak untuk keluarganya. Sebagai solusi, mereka mengonsumsi biskuit laden dengan gula, yang kemudian menyebar di negara-negara koloni Inggris seperti Perusahaan Barbados, yang sampai hari ini masih kokoh berdiri menyajikan biskuit khas kolonial Inggris. Namun sayangnya, produk ini miskin antioksidan, asam lemak dan nutrisi penting lainnya yang sangat diperlukan oleh tubuh.

Kedua, Makanan kalengan, proses ini membuat konsumen terpapar racun dari heavy metal seperti timbal yang ikut terserap dalam makanan saat proses pengalengan dilakukan.

Subhanallah, sungguh tubuh manusia Allah ciptakan dengan sebaik-baiknya, [2] diamanahkan organ pencernaan yang kompleks untuk mencerna segala sesuatu yang baik karena Allah hanya menerina yang baik.[3] Namun, kebebasan memilih yang Allah berikan kepada kita telah membuat kita “merasa” bebas dan pantas untuk mengkonsumsi sesuai kemauan.

Well, jika itu menyangkut kesehatan pribadi kita, mungkin kita bisa mempertanggung jawabkannya sendiri meski itu tetap saja tidak mudah. Tapi jika bumi Allah juga ikut terdampak tersebab karena pilihan/kemauan kita? Bukankah itu egois?

Baik, mari kita kupas sedikit, apa saja konsekuensi memilih ultra processed food bagi kesehatan keluarga dan bumi Allah.

  1. Miskin Serat (Fiberless). Di lansir dari tulisan Dokter J. Mercola berjudul “Food as medicine – The answer to Mounting Health Crises” bahwa serat dalam makanan sehat  (Real Food) berfungsi melindungi kerja hati dan menjaga usus. Serat menjaga bakteri baik dalam usus untuk membantu proses pencernaan manusia. Sedangkan dalam ultra processed food, serat akan memendekan masa simpan produk karena dapat mempercepat proses pembusukan. Ini berdampak pada keuntungan finansial yang dihasilkan oleh produsen, sehingga cara “terbaik” mereka adalah dengan menyingkirkan serat dari produk mereka dan sekaligus membuatnya menjadi makanan yang tidak sehat.
  2. Ultra processed food mengandung  tingkat gula yang tinggi , Lemak Jahat (Trans Fat) dan Sodium. Di banyak studi tentang makanan dan kesehatan ketiga kandungan di atas telah terbukti mengakibatkan obesitas, diabetes, penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Tidak hanya itu seringnya mengonsumsi ultra processed food dapat meningkatkan probabilitas terkena kanker.
  3. Miskin nutrisi, padat kalori dan penuh zat artifisial. Serat, vitamin dan mineral akan sulit ditemukan dalam ultra processed food, itu mengapa sebagian processed food memfortifikasi produknya dengan tambahan nutrisi untuk menambah nilai jual, meskipun itu sama sekali tidak membuatnya sehat karena telah disajikan dengan tambahan gula, sodium dan lemak trans. Menurut laporan EWG (Environmental Working Group) bayi dan ibu hamil memiliki resiko mengalami over dosis akibat tambahan vitamin tersebut. Selain itu, tingginya kalori disertai zat tambahan pangan buatan (artifisal) membuat konsumen tidak sadar mengonsumsinya dalam jumlah banyak karena rasa candu di otak yang dilepaskan oleh dopamin akibat zat additive yang terdapat dalam ultra processed food.

Paparan sederhana ini menggambarkan ketidak-baikan ultra processed food bagi kesejahteraan tubuh manusia. Lantas bagaimana dengan lingkungan?

Di tahun 1970 an, Amerika membuat perencanaan subsidi di bidang pertanian untuk komoditas tertentu agar fluktuasi harga tidak terjadi dan tidak berdampak pada kerusuhan politik. Itulah mengapa, mayoritas makanan tidak sehat terkesan murah, karena komoditas jagung, gandum, kedelai dan gula tebu yang menjadi bahan utamanya disubsidi oleh pemerintah. Namun sayangnya, untuk mewujudkan ini, lahirlah sistem pertanian yang bergantung pada sistem monokultur dan berbasis bahan kimia baik dari pupuk atau pembasmi hama.

Sebagaimana telah dibahas pada artikel-artikel sebelumnya “Mencintai Bumi dari Rumah” dan “Ibu, Pilihanmu adalah Jihad“, sistem ini berdampak sangat besar pada rusaknya lingkungan sekaligus kesehatan publik (konsumen). Ini belum termasuk industri pengolahan, pengemasan dan pendistribusian yang menghasilkan banyak emisi karbon pencetus pemanasan global serta sampah plastik yang merusak ekosistem darat dan lautan. Tidak lupa, isu buruh pabrik yang diekspolitasi baik tenaga dan waktunya juga bisa ditemukan di sistem ini. Subhanallah, hanya satu sistem tapi kerusakannya memenuhi semua lini kehidupan, mulai dari pertanian, kesehatan, ekonomi, politik dan sosial budaya.

Solusinya?

Untuk menjawab fenomena ini, mengapa kita tidak langsung mengonsumsi buah, sayuran, biji-bijan dan kacang-kacangan? baik yang raw maupun minim olahan sehingga nutrisinya tetap bisa bermanfaat bagi tubuh. Dan di waktu yang bersamaan kita juga ikut menjaga lingkungan. Di sini kita dihadapkan dengan standard konsumsi itu sendiri, apakah kualitas atau kuantitas, yang perlu dipenuhi dalam kegiatan konsumsi.

Memang tidak mudah merubah gaya hidup, karena perlu kekuatan dan kedisiplinan, baik itu fisik maupun psikis. Mulai dari mengilmui diri, mengurangi asupan tidak sehat, sembari memohon kekuatan dari Allah atas kebaikan yang sedang kita perjuangkan. Lagi, semua akan berat jika makan adalah tujuan hidup kita, namun jikalau makan hanya sekedar menegakan tulang punggung untuk beribadah sebagaimana yang Nabi pesankan,[4] maka itu akan membuatnya menjadi lebih mudah dalam semua kondisi terutama dari sisi finansial.

Maka para ibu, mungkin awalnya terlihat begitu sederhana, hanya sederetan ultra processed food yang sering menjadi produk unggulan jajaran supermarket bahkan toko kelontongan yang mencuri perhatian kita dan anak-anak kita. Namun, kebijaksaan para ibu untuk tidak lagi menjadi bagian dari mereka adalah penting dan wujud langkah nyata untuk memperbaiki generasi. Dan tentu saja, langkah nyata yang bijak itu berdampak pada kelestarian tempat kita berpijak hari ini dan masa depan bi idznillah.

Dan dari langkah kecil itulah, kemudian menjadi awal keteladan kita bagi anak keturunan kita. Menjadi doa dari seluruh alam yang terjaga, dan bahkan menjadi keridhoan Allah atas keseriusan kita menjaga amanah-amanahNya di Bumi Allah.

Dear Moms, we are stronger than what we think we are. Do our best and Let Allah do the rest.

Tetap semangat dan semoga bermanfaat, Barakallah fiikum…


[1] Dr. Joseph Mercola, 2021, Food as Medicine- The Answer of Mounting Health Crises, articles.mercola.com

[2] QS At-Tin : 4

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

[3] Hadith Arbain ke 10 dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana dia telah  memerintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai para Rasul makanlah dari yang baik-baik dan beramallah yang shalih”. Sementara kepada orang-orang yang beriman Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari kebaikan apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebagai rezeki.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan ada seorang pria yang melakukan perjalanan jauh, pakaiannya kusut masai dan berdebu. Dia mengangkat tangannya ke langit mengatakan, ‘Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku.’ Sementara makanannya haram, minumannya haram, makanan tambahannya juga haram. Maka bagaimana orang tersebut bisa dikabulkan doanya.” (HR. Muslim)

[4] “Cukuplah bagi anak keturunan Adam agar makan sekedar untuk menegakkan tulang sulbinya (tulang punggung). Melainkan jika ia tidak dapat mengelak, maka isilah 1/3 untuk makanannya, 1/3 untuk minumannya, dan 1/3 untuk nafasnya.” (Hadith Riwayat at-Tirmidzi, no. 2380. Dinilai sahih oleh at-Tirmidzi)

Editor: Abu Alfatih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *