Seri Bumi dan Makanan : Ibu, Pilihanmu adalah Jihad.

Makanan merupakan kebutuhan pokok seluruh makhluk bernyawa. Manusia, hewan dan tumbuhan memerlukan makanan untuk bisa bertahan hidup. Allah memberikan rizki berupa makanan melalui mekanisme kebesaran dan kekuasaanNya. Dahulu Allah mengirimkan makanan dari langit untuk bani Israil,[1] namun mereka tidak puas dengan nikmat tersebut lalu meminta sesuatu yang tidak sebanding dengan apa yang diberikan Allah sebelumnya.[2] Disini kita bisa melihat, bahwa manusia memiliki kencendrungan untuk tidak bersyukur dengan apa yang telah Allah pilihkan untuk mereka. Padahal sesungguhnya Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-hambaNya.

Islam memerintahkan manusia untuk makan dari sesuatu yang halal juga baik,[3] di ayat ini juga Allah melarang manusia untuk mengikuti langkah-langkah syaitan. Ibnu kastir menjelaskan makna dari ayat ini yakni, memakan sesuatu yang halal (sumber dan dzatnya) dan tidak membahayakan bagi akal dan tubuh, selain itu tidak diperkenankan untuk mengharamkan sesuatu yang telah Allah halalkan. Artinya, syarat utama yang harus dipenuhi sebagai makanan adalah Halal dan Thayyib.

Sayangnya dengan adanya perkembangan zaman dan teknologi, sebagian manusia mencoba melakukan berbagai eksperimen dengan keterbatasan akal dan ilmunya serta menjauhkan diri dari sunnatullah di waktu yang bersamaan sehingga tidak hanya manusia itu sendiri yang dimudhoroti tapi juga alam tempat Allah menyediakan berbagai sumber makanan manusia sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Qur’an surah Ar-rum ayat ke 41.[4] Dan lagi, yang menikmati keuntungannya hanya segelintir pihak kapitalist yang mengejar keuntungan duniawi semata.


Sumber makanan.

Sebelumnya telah kami bahas secara umum tentang sektor pangan di artikel ini (Mencintai Bumi dari Rumah).

Terlepas dari berbagai media tanam yang tersedia hari ini, tanah merupakan media utama yang Allah ciptakan untuk menumbuhkan tanaman. Jika tanah rusak (sakit bahkan mati) maka kesempatan kita untuk melakukan produksi akan terhambat dan ini sudah pasti memiliki dampak yang besar bagi kelangsungan hidup manusia.

Di dalam tanah terdapat berbagai makhluk Allah, mikro organisme. Di dalam setiap satu sendok teh tanah yang sehat mengandung lebih dari jumlah populasi manusia di dunia, artinya ada lebih dari tujuh milyar mikro organisme. Merekalah yang ikut bertugas menjaga kesuburan tanah dengan mengonsumsi karbon melalui proses fotosintesis, dekomposisi dan respirasi. Hasil dari mekanisme ini,  membuat tanah menjadi sehat dan subur, hasil produksi yang kaya nutrisi, kesahatan manusia terjaga dari nutrisi yang terkandung dalam makanan, menjadi sumber air tanah yang bersih, dan berperan dalam menstabilkan iklim dari meningkatnya panasan global. Hal ini dikarenakan tanah yang sehat akan mampu menampung karbon yang banyak (Carbon storage). Sebaliknya  tanah yang sakit tidak mampu melakukan itu, sehingga karbon akan kembali dipantulkan ke atmosfer bumi yamg kita kenal dengan istilah Greenhouse Gas Emissions.

Sayangnya, dalam 60 tahun terakhir dimana industrialisasi pertanian dicetuskan  setelah perang dunia kedua dengan “tujuan” mengatasi kelaparan dan membuat suplai makanan lebih efesien dan sehat telah membuat sistem pertanian di dunia berubah. Sistem ini sangat  bergantung pada model monokuktur penggunaaan pupuk kimia berbahaya, penggunaan herbisida dan pestisida serta non-therapeutic antibiotics yang telah terbukti merusak ekosistem tanah dan keanekaragaman makhluk hidup. Dalam estimasinya, United Nation telah memperingatkan pada tahun 2019  bahwa hanya tertinggal 60 kali masa panen jika sistem ini masih dipertahankan. Selain itu, kandungan tanah beracun ini akan diserap oleh tanaman yang ditumbuhkan membuat kesehatan konsumen juga terdampak, baik itu bisa dirasakan langsung seperti alergi atau di kemudian hari seperti autoimun, kanker dan berbagai penyakit lainnya. Ditambah lagi sumber air tanah akan tercemar dan pemanasan global akan meningkatkan. Lihatlah begitu kompleksnya permasalahan ini jika tanah tidak terjaga.

Yang lebih menarik dan fundamental adalah  dari tangan para ibu di rumah yang ketika menentukan pilihan menu keluarganya mampu memiliki dampak yang sangat luar biasa bagi bumi Allah tercinta. Kita bisa memilih makanan yang dihasilkan oleh petani yang ikut berkontribusi menjaga kelestarian bumi, seperti membeli makanan organik atau regenerative food yang ditumbuhkan di atas lahan-lahan regenerative mereka. Pola konsumsi seperti ini telah menjadi cara terbaik konsumen untuk ikut andil menjaga kelestarian bumi.

Beberapa tahun terakhir ini, dipicu oleh kesadaran akan isu perubahan iklim, banyak komunitas pecinta lingkungan yang memfasilitasi kegiatan konsumsi seperti ini dengan menyediakan produk pangan bebas pupuk kimia dan pestisida terutama di kota-kota besar, jika di wilayah kita belum tersedia akses untuk membelinya why not kita bisa menanamnya sendiri. Sekarang mulai banyak keluarga baik di desa bahkan di kota yang mulai menjadikan ini sebagai lifestyle untuk sumber pangan keluarganya sendiri bahkan juga sebagai bentuk healing treatment atas kejenuhan tinggal di perkotaan yang padat dan penuh polusi, atau dengan cara yang paling akhir yakni ikhtiar mengurangi atau menekan konsumsi makanan yang dihasilkan melalui sistem pertanian konvensional yang telah merusak bumi. At least apa yang keluarga kita konsumsi didominasi oleh sesuatu yang bermanfaat untuk tubuh juga bumi kita bukan sebaliknya.

Dalam ilmu ekonomi,  tingkat permintaan para ibu ini akan berdampak pada penawaran yang dilakukan penjual, jika preferensi kita sebagai ibu berubah, maka penjual akan berusaha menyesuaikannya. Bayangkan jika seluruh ibu-ibu muslim di dunia berpikir hal yang sama, bukankah kita bisa merubah sistem pertanian hanya dari rumah kita? Dan ingatlah bahwa ini adalah bagian dari jihad kita sebagai ibu. Menyediakan makanan yang halal dan thayyib, tidak hanya thayyib bagi tubuh tapi juga bumi Allah beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya.[5] Tidakkah kita terpikir bahwa kita ikut menjaga  milyaran mikro organisme untuk tetap hidup, bertasbih kepada Allah, hanya dengan memilih makanan untuk keluarga kita? Masyaa Allah. Kalau bukan sekarang lalu kapan? Kalau bukan kita lalu siapa?

Dear Moms, Your choice matters. 🙂
Insyaa Allah seri Bumi dan Makanan akan dilanjutkan pada artikel mendatang…
Barakallah fiikum,  semoga bermanfaat.


[1] QS Al-Baqarah : 57

Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

[2] QS Al-Baqarah : 61

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”

[3] QS Al-Baqarah : 168

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

[4] QS Ar-Rum : 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

[5] QS Al-Ma’idah : 2

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *