Mengajak Anak Mencegah Food Loss dan Food Waste

Dalam kampanye meningkatkan kesadaran akan sustainable living, ibu rumah tangga sebenarnya menjadi sasaran utama untuk kesadaran manajemen sampah. Sebagian besar sampah yang menumpuk di TPA adalah sampah rumah tangga, yang mana menjadi tanggung jawab ibu rumah tangga. Ibu memiliki power untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Dalam lingkup yang lebih luas, seorang ibu dapat mengajak komunitas di lingkungan tempat tinggalnya untuk meningkatkan awareness, namun dalam lingkup yang lebih kecil, seorang ibu pun bisa mengajak keluarganya untuk lebih mindful dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam mencegah food loss dan food waste. Anak-anak adalah sosok yang sangat mudah diajak dan ditanamkan hal dan kebiasaan baik, karena mereka sangat mudah meniru dan menerima hampir segala hal yang diajarkan orang tuanya. Mari libatkan anak sedari kecil sehingga menjadi kebiasaan mereka hingga dewasa nanti.

Bagaimana cara konkritnya? Berikut adalah beberapa langkah kecil yang bisa dilakukan di keluarga.

  1. Mengenalkan perbedaan food loss dan food waste

Mengutip dari blog Zero Waste Indonesia (https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/), food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran, buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja. Hal ini dapat terjadi karena hasil yang tidak diinginkan pasar, salah dalam penyimpanan sehingga umurnya menjadi lebih pendek. Food waste adalah makanan yang siap dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA. Tentu kedua hal ini sangat disayangkan karena di satu sisi masih banyak orang-orang yang kelaparan dan kesulitan mendapatkan makanan. Kita dapat memberi pengetahuan ini kepada anak sebagai pendahuluan mengapa penting untuk menerapkan pola hidup yang berkesadaran. Buka dengan agama dan kunci dengan agama, tekankan bahwa Allah membenci perbuatan yang mubadzir.

Sumber: instagram @britaniasari https://www.instagram.com/p/CLuIOP0gfjx/

  1. Berdiskusi dengan anak membuat meal plan

Biasanya ibu merasa pusing menetapkan jadwal menu makan selama seminggu, pasangannya pun seringnya menjawab terserah, melibatkan anak-anak sejak menyusun meal plan dapat meringankan beban, meningkatkan bonding, membuat ibu mendapatkan ide baru dari hasil diskusi.

  1. Memeriksa persediaan bahan makanan, mencatat apa yang sudah tersedia, dan apa yang belum

Tahapan ini melatih anak terjun langsung ke dalam proses, terutama dalam hal perencanaan. Anak akan berlatih untuk mengamati dengan teliti apa yang dia punya, berpikir secara rinci apa yang dia butuhkan untuk mencapai tujuan, dan menetapkan seberapa banyak yang dia butuhkan. Tidak lebih, tidak kurang, secukupnya saja.

  1. Mengajak ke pasar berbelanja sesuai daftar, membawa wadah makanan sendiri, dan membeli bahan yang mendekati masa pakainya atau yang terlihat jelek tapi sebenarnya bagus

Anak-anak merasa senang jika dilibatkan aktivitas orang tuanya, termasuk berbelanja. Anak yang fulfilled, kebutuhan jiwa raganya terpenuhi, tidak akan mudah merengek meminta hal-hal remeh seperti jajanan atau mainan. Jangan ragu untuk mengajak anak berbelanja karena dari sinilah mereka belajar bertransaksi, keterampilan hidup sehari-hari yang akan sangat mereka butuhkan. Ajarkan anak doa masuk pasar, adab berbelanja, adab berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, dan lain sebagainya. Daftar belanja juga akan membantu anak fokus akan tujuannya, apa yang kita benar-benar kita butuhkan dan komitmen pada rencana. Saat berbelanja bahan makanan segar, biasanya akan ada potongan harga untuk barang-barang yang mendekati masa pakainya, misalnya daging, sayur, atau buah. Hal ini juga dapat menjadi kesempatan mengajarkan anak untuk “menyelamatkan” bahan makanan yang sebenarnya masih bagus, daripada dibuang begitu saja karena tidak ada yang berminat membelinya. Jangan lupa untuk mengajak anak membawa wadah makanan sendiri untuk menampung bahan makanan.

  1. Menyimpan bahan makanan dengan benar dan mengolah bahan makanan bersama-sama

Orang tua dapat menunjukkan cara menyimpan bahan makanan yang benar agar lebih tahan lama kepada anak-anak, hanya jika orang tua sudah mengetahui prinsip-prinsip dasar ilmunya. Saat ini sudah sangat banyak ilmu food management yang dapat dikulik dari internet. Dari sini, kita belajar salah satu manfaat belajar adab sebelum ilmu. Dengan mengetahui adab menuntut ilmu, salah satunya dengan membaca basmalah, insya Allah ilmu yang kita dapatkan akan berkah dan bermanfaat. Apa tujuan ilmu? Yaitu diamalkan.

  1. Mencontohkan memilah sampah dan mengenalkan bedanya plastik kertas logam

Selesai mengolah bahan makanan, selanjutnya adalah memilah sisa konsumsi. Meskipun kita sudah membawa wadah makanan sendiri, kadang kala sisa konsumsi tidak dapat dihindari. Seringnya berupa kemasan plastik, kertas, maupun logam. Ajak anak memilah sampah sesuai jenisnya dan menyetorkannya ke bank sampah yang bersedia mendaur ulang.

  1. Mengambil sesuai porsinya sendiri dan menghabiskan makanannya

Salah satu penyebab food waste adalah tidak menghabiskan makanan. Sebelum makan, ajak anak untuk mengambil sendiri sesuai porsinya sehingga anak belajar bertanggung jawab akan keputusannya, sekecil apa pun, termasuk mengambil porsi makanan. Makan sesuai dengan porsinya, dengan menekankan hadits Rasulullah untuk memberi ruang pada lambung, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara. Sekali lagi, kunci dengan nasihat bahwa Allah tidak menyukai kemubadziran.

  1. Doa

Terakhir, mari kita berdoa, ajak anak untuk berdoa bersama-sama pula, semoga semakin banyak orang yang diberi hidayah Allah menghindari membuang-buang makanan.

Demikianlah rekomendasi aktifitas yang bisa dilakukan mulai dari keluarga. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bish-shawwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *