Mencintai Bumi dari Rumah

Bumi adalah rumah kita di dunia, Allah menyiapkannya untuk manusia.[1] Kita diciptakan dari sari patih tanah yang menjadi bagian dari Bumi.[2] Peran kita sebagai hamba dan khalifah diuji ketika kita berada di bumi.[3] Allah menumbuhkan berbagai tanaman melalui bumi,[4] begitupun menjadi tempat berbagai hewan untuk berkembang biak sebagai rizki untuk manusia.[5] Bahkan saat wafat nanti kita akan dikuburkan ke dalam bumi. Sungguh, bumi memiliki ikatan yang erat dengan manusia itu sendiri. Maka sudah semestinya kita memberikan perhatian yang khusus kepada Bumi tempat kita beramal sebelum kembali ke kampung akhirat.


Mungkin, bagi sebagian kita, isu perubahan iklim sudah bukan lagi hal yang baru. Namun tidak semua kita memahami secara dalam apa yang benar-benar terjadi dengan bumi kita dan mengapa itu semua bisa terjadi.

Pemanasan global menjadi indikator bahwa kegiatan manusia hari ini jauh dari perannya sebagai hamba sekaligus khalifah di muka bumi.

Mulai dari aktivitas produksi, distribusi juga konsumsi yang memeliki efek langsung kepada bumi.

Contoh sederhana, kegiatan produksi pangan dengan menggunakan pupuk kimia berbahaya dan pestisida seperti roundup yang digunakan di seluruh dunia, proses pengolahan pangan dengan zat adiktif/ tambahan pangan, packaging dengan menggunakan plastik, kegiatan distribusi ekspor impor yang masif, hingga pola konsumsi yang berlebihan (konsumtif) yang berakhir dengan food waste. Lingkaran setan dalam sektor pangan ini hanya satu sektor dari sekian sektor ekonomi yang meninggalkan jejak karbon pencetus pemanasan global yang mana keuntungan moneternya hanya dinikmati oleh para kapitalist. Di tahun 2021 ini jumlah emisi karbondioksia yang dihasilkan kegiatan manusia (Sektor minyak, gas dan batu bara) berada di angka 1.5 milyar juta ton, angka ini tertinggi kedua sepanjang sejarah (Laporan IEA, 2021). Tiga sektor di atas merupakan sektor hulu yang mendasari seluruh kegiatan industri hari ini.

Oleh sebab itu, sebagai manusia yang sedang menumpang hidup di bumi Allah sudah semestinya kita mengintrospeksi diri. Mencari tahu aktivitas harian kita yang mungkin ikut berkontribusi dalam pemanasan global.

Apa yang keluarga kita konsumsi baik itu pangan, sandang maupun papan berpotensi memiliki dampak terhadap bumi. Maka peran ibu disini sangat krusial untuk mengedukasi anggota keluarga yang lain, mengapa? Karena sunnatullahnya seorang ibu bertanggung jawab atas anak dan rumahnya, sehingga ia memiliki pengetahuan yang utuh tentang apa saja yang menjadi kebutuhan keluarganya. Apa yang di makan, pakaian yang dikenakan, alat perabot yang di gunakan, kemana harus berbelanja, ritual rihlah keluarga, pengaturan finansial rumah tangga dll.

Oleh karena itu langkah utama dan terpenting adalah bagaimana seorang ibu mengedukasi dirinya tentang kearifan menjaga bumi. Sehingga ia bisa menjadi kompas anggota keluarga untuk melakukan hal yang sama. Seperti memilih jenis makanan yang dikonsumsi keluarga, apakah itu makanan organik yang bebas dari pupuk kimia dan pestisida sehingga tidak merusak bumi, jenis pakaian yang dikenakan apakah mengandung bahan-bahan sintetis yang dapat merusak bumi, penggunaan listrik dan air yang kurang bijak sehingga terjadi pemborosan energi, hobi traveling dengan alat tranportasi boros emisi, pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan sosial. Inilah sebagian peran yang bisa menjadi catatan penting untuk para ibu di rumah mereka.

Berikut adalah beberapa langkah sederhana untuk para ibu di rumah sebagai bentuk cintanya kepada bumi.


  1. Mulailah dengan memilih makanan yang halal dan thayyib sesuai kebutuhan bukan keinginan untuk menghindari food waste. Selain itu thayyib disini  bukan hanya untuk kesehatan tubuh kita tapi juga untuk kesehatan bumi kita karena kita sama-sama ciptaan Allah, makhluk Allah. Maka keadilan dalam konsumsi perlu ditegakan.
  2. Memprioritaskan untuk membeli produk lokal yang berkualitas. Dengan demikian, produk akan lebih awet dan ikut menekan emisi karbon akibat proses ekspor impor.
  3. Berusaha menghindari penggunaan plastik sekali pakai ketika berbelanja. Dengan membawa tas belanja sendiri, kita berkontribusi menekan emisi karbon dalam proses produksi plastik serta mencegah polusi plastik di muka bumi yang membahayakan makhluk Allah yang lain.
  4. Berbelanjalah dalam jumlah besar untuk menghindari penggunaan packaging plastik yang tidak diinginkan seperti dengan berbelanja di pasar tradisional atau bulk store. Selain itu cara seperti ini lebih ekonomis.
  5. Memprioritaskan untuk membeli pakaian dan perabotan di toko barang bekas (second-hand market). Ini bertujuan untuk menekan sampah tekstil dan perabot yang ikut berkontribusi pada meningkatnya emisi karbondioksida.
  6. Mengelolah sampah rumah tangga dengan menyiapkan tong/ tempat terpisah, seperti sampah plastik, alumunium, kertas, kaca dan bahan organik (sampah dapur). Lalu mengirimnya ke pusat recycle untuk dikelolah dengan bijak. Cara ini juga membuat kita sadar jenis sampah apa yang paling banyak kita “konsumsi” untuk dikurangi di kemudian hari, sehingga kehidupan minim sampah bisa tercapai.
  7. Mengompos sisa makanan atau mengirimnya ke pusat kompos. Hal ini bertujuan untuk menekan gas metana yang dihasilkan sampah dapur yang tidak dikelola dengan benar.
  8. Membeli produk rumah tangga yang ramah lingkungan. Seperti deterjen laundry, sabun cuci piring, pembersih lantai dll.
  9. Menggunakan listrik dan air sesuai kebutuhan untuk menekan emisi karbon dan pemborosan energi.
  10. Membiasakan diri dan keluarga untuk menggunakan transportasi umum, bersepeda atau berjalan kaki jika jarak tempuh cukup dekat.
  11. Membaca artikel-artikel terkait urgensi menjaga lingkungan beserta langkah-langkahnya.
  12. Dan yang paling penting adalah berusaha mengimani dengan ikhlas Pencipta Bumi yaitu Allah, dengan mentadabburi ayat-ayat terkait bumi (lingkungan) agar kita mengerti apa yang Allah inginkan dari kita untuk bumi yang Allah titipkan.

    Dengan demikian, para ibu bisa menjadi teladan bagi anggota keluarga lainnya dalam mencintai bumi dari rumah. Semoga menjadi amal jariyyah.

    Dari kita untuk bumi,

    Barakallah fiikum semoga bermanfaat.

[1] QS Al-Baqarah : 29

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

[2] QS Al-Mu’minun : 12

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

[3] QS Al-Baqarah : 30

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

[4] QS Al-An’am : 99

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

[5] QS Al-An’am : 142

“Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *