Manajemen Emosi dalam Sustainable Living

Adakah di antara pembaca ThRU di sini yang sedang berniat memulai sustainable living? Atau malah sudah menjalankannya?

Miskonsepsi yang sering terjadi terkait sustainable living adalah bahwa hal ini merupakan gaya hidup baru yang mahal dan ribet. Sustainable berarti “berkelanjutan”, sehingga sustainable living bermakna gaya hidup yang memiliki life span yang panjang. Sustainable living bersifat komprehensif, artinya tidak hanya berfokus pada pola makan, pola konsumsi, manajemen sampah, namun meliputi semuanya.

Jika dilihat dari pola makan, seharusnya semua yang kita makan berasal dari alam dan kembali ke siklusnya di alam. Hal ini yang mendasari gerakan no food waste, no food loss, mengompos sampah organik, dan semacamnya. Jika dilihat dari pola konsumsi, seharusnya semua barang yang kita pakai digunakan semaksimal mungkin sesuai masa pakainya sebelum benar-benar didaur ulang. Hal ini yang mendasari konsep Reduce, Reuse, Recycle. Masyarakat diharapkan dapat mengurangi konsumsi barang-barang, tidak perlu membeli barang baru jika masih ada barang lama yang masih layak pakai.

Sumber: https://sustaination.id/apa-itu-sustainable-living/

Membangun kebiasaan baru memang tidak mudah. Menerapkan sustainable living mungkin terkesan tidak mudah jika dibandingkan dengan gaya hidup instan yang sudah terbiasa kita jalani. Namun sebenarnya konsep ini bukan hal yang mahal, apalagi baru. Justru hal ini yang sudah dilakukan nenek moyang kita sejak dahulu kala. Bahkan rasulullaah shalallahu ‘alayhi wasallam juga telah meneladankannya, mulai dari pola hidup, dan makanan yang beliau konsumsi.

Betul, bahwa sulit memang melepaskan kebiasaan instan, dengan segala kemudahan hari ini berkat kemajuan iptek. Namun yang justru paling mendasar dibutuhkan untuk kemudian mampu menerapkan konsep sustainable living adalah kesadaran, keinsyafan. Mulai dari yang sederhana saja, yaitu kesadaran di setiap keputusan kita sehari-hari dalam membeli bahan makanan, kemudian kemana membuang sisa konsumsinya, dalam membeli atau memakai yang masih ada, dalam simpan atau pinjam, dan lain sebagainya. 

Sumber: https://sustaination.id/apa-itu-sustainable-living/

Ketika memulainya, sebagian besar orang mungkin akan mengalami keadaan yang overwhelming, yang disebabkan tiga hal:

  1. Guilty. Perasaan berdosa. Ketika mendapatkan pengetahuan baru mengenai gizi makanan, atau tentang sampah yang menumpuk di TPA, akan menimbulkan rasa bersalah dalam diri. Perasaan ini justru adalah pintu awal kesadaran diri yang baik. Namun jika mentalitasnya tidak terlatih, dikhawatirkan perasaan bersalah justru akan menahan kita dari aksi nyata untuk memutus kebiasaan buruk.
  2. Gamang. Dengan arus informasi yang begitu kuat, sebagian besar orang mungkin juga akan mengalami kegamangan. Bingung memulai mengubah kebiasaan dari mana. Kebingunan ini timbul karena telah mengakarnya kebiasaan lama yang keliru dalam rutinitas keseharian kita. Juga bisa disebabkan karena ketidaktahuan ilmu, metode, dan atau cara menyikapi. Apalagi jika beririsan atau berpengaruh dengan keuangan, seperti perubahan pola makan, pengurangan jejak karbon, dll. Semuanya terasa penting.
  3. Nafsu ingin mengontrol orang lain. Setelah mengetahui pentingnya menerapkan sustainable living yang komprehensif, pasti akan ada rasa ingin mengajak orang lain untuk menerapkan kebiasaan baik yang sama. Apalagi ketika sudah mulai terbiasa, saat melihat orang lain yang masih sembarangan pasti ada rasa gemas dalam diri kita. Bahkan kalau tidak disikapi secara dewasa, kita akan terjerumus pada sikap mentalitas yang mudah menyalahkan, kaku dalam menyikapi ketidaktahuan orang lain, kecewa berlebihan/marah ketika ajakan tidak dihiraukan orang lain, dll.

Ada banyak hal yang membuat perasaan tidak nyaman ketika memulai menjalani gaya hidup yang berkelanjutan ini, namun tiga hal di atas adalah yang paling banyak terjadi. Bahkan saat sudah cukup lama menerapkannya pun pasti masih ada emosi-emosi yang harus terus dikontrol dalam diri. Pada dasarnya, sebenarnya hal ini cukup mudah diatasi karena perasaan adalah salah satu hal dalam lingkup kontrol kita. Hati yang was-was dan tidak bahagia akan berujung pada fisik yang kurang sehat pula.

Nah, terkait tiga hal di atas, ada dua hal teknis yang bisa kita lakukan untuk membantu mengatur perasaan kita.

Pertama, deadline. Untuk kasus meredam rasa bersalah, terima perasaan bahwa kita memang merasa bersalah. Dengan mengakuinya akan terasa lebih baik. Namun demikian, berikan tenggat waktu. Butuh berapa lama untuk meredam guilt dan memulai tindakan nyata? Anda yang bisa memutuskan. Hal yang sama untuk kasus overwhelmed dan bingung memulai dari mana. Anda bisa menetapkan prioritas hal-hal yang bisa anda lakukan terlebih dulu, sekaligus menetapkan jangka waktu pembiasaannya. Misalnya, anda ingin memulai dari mengolah sampah. Terapkan waktu sebulan untuk membiasakan diri. Setelah itu lanjutkan ke hal lain, misal prioritas kedua adalah mengompos. Terapkan waktu sebulan untuk merutinkan kebiasaan mengompos. Lanjut ke prioritas ketiga, misalnya mengurangi plastik dengan membawa kotak makan sendiri selama sebulan. Hal ini terus berlanjut ke prioritas-prioritas berikutnya. Ingat, sustainable living seharusnya merupakan gaya hidup yang komprehensif, dan hal ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Kedua, doa. Adapun untuk challenge ketiga yang berkaitan dengan orang lain, hal tersebut sudah bukan ranah kontrol kita lagi. Setiap kali ada dorongan perasaan ingin mengontrol orang lain melakukan hal yang kita inginkan, atau overthinking bagaimana caranya mengajak orang lain, ingat quote berikut: “If you have time to worry, then you have time to pray.” Daripada menghabiskan waktu untuk overthinking, lebih baik kita doakan mereka semoga mendapat hidayah dan kemampuan dari Allah untuk menjaga bumi dengan lebih baik lagi.

Wallahua’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *