Loading...
Finance

Mengenal Zakat Profesi

Ummies, sudah menjadi rahasia umum yang kadang masih ada kebingungan diantara kita tentang zakat profesi. Ada ngga sih zakat profesi? lalu seperti apa? Nah yuk kita telisik bersama-sama.

Profesi adalah sebuah aktifitas yang kita tekuni berdasarkan basis ilmu atau teori tertentu yang nantinya kita mendapatkan/memperoleh imbalan atau penghasilan. Contoh dari pekerjaan profesi itu adalah seperti sebagai dosen, dokter, akuntan, pengacara, konsultan, atau yang lainnya. Nah tentu pekerjaan profesi ini akan memberikan dampak finansial/keuangan dalam kehidupan kita. Kita bisa menggunakan penghasilan tersebut untuk membeli apa saja yang kita inginkan.

Di sinilah kadang kita lupa bahwa ternyata ada hak orang lain yang dititipkan oleh Allah melalui kita. Melalui penghasilan/harta yang kita peroleh dari pekerjaan profesi, ada sebagian harta yang fungsinya justru untuk men-sucikan tak hanya harta keseluruhan milik kita tapi juga membersihkan dan menyucikan jiwa kita. Apakah kita sudah menyadari/memahami itu?

Sebagai seorang muslim, salah satu rukun Islam yang wajib kita tunaikan memang adalah zakat. Dan zakat juga menjadi komponen utama dalam manajemen keuangan pribadi maupun keluarga. Di dalam Al-Quran disebutkan nash-nashnya seperti Q.S. An-Nur: 56, Q.S. At-Taubah: 103, Q.S. Adz-Dzariat: 19. Sebagian ulama seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mu’awiah, Umar bin Abdul Aziz, juga memberikan perhatian yang serius terkait penerapan wajib zakat tak terkecuali zakat atas setiap upah/gaji yang didapatkan dari pekerjaan profesi yang dilakukan.

Dalam sebuah sesi kuliah muamalah yang diisi oleh Ustadz Oni Sahroni. Lc, MA (salah satu anggota Dewan Syariah Nasional MUI), beliau menyatakan bahwa secara substansi zakat profesi adalah zakat atas penghasilan yang diperoleh atas profesi yang kita jalani. Bahkan jika dikaji lebih jauh, tidak ada lembaga ataupun otoritas fatwa yang tidak mewajibkan zakat profesi. Di Indonesia sendiri, berdasarkan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 23 Tahun 2003 dan fatwa MUI DKI Jakarta 12 Februari 2001, zakat penghasilan atau zakat profesi adalah wajib atas penghasilan yang telah mencapai nishab dan haul, yakni senilai 85 gram, sebesar 2.5%.

Beliau juga menambahkan dalam keterangannya, bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait penentuan nishab (minimal jumlah) dan haul (minimal waktu), namun mayoritas Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) di Indonesia menggunakan nishab sekitar 520 kg makanan pokok dengan nilai zakat 2.5% dengan pendekatan dibayarkan setiap bulan atau setiap kali memperoleh penghasilan. Jika kita asumsikan 520kg beras sebagai makanan pokok kita yang rata-rata per kg harganya Rp10.000, artinya ketika pendapatan dari profesi kita lebih tinggi dari Rp5.200.000, maka kita wajib membayar zakat sebesar 2.5%.

Ummies, kita diperbolehkan menggunakan pendekatan perhitungan atas pendapat ulama lain, namun yang paling penting adalah kita menunaikan kewajiban zakat kita. Ada banyak opsi LAZ dan BAZ yang bisa kita pilih untuk menunaikan zakat kita. Beberapa hikmah mengapa kita didoronng untuk menunaikan zakat di lembaga formal, in shaa Allah kita ulas pada artikel lain.

Selamat menunaikan ibadah berzakat . (:

@listianaica

Leave a Reply