Loading...
FinanceInspiration

Luasnya Nikmat di Dalam Sempitnya Harta

Dalam ujian kesempitan harta, banyak yang berandai-andai untuk memiliki harta yang berlimpah. Tentu tidak salah. Namun sebelum meneruskan impian untuk memiliki harta yang berlimpah, sungguh arif jika kita meneladani ajaran Nabi mulia, shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, bahwa di dunia ini hanya ditempati oleh 4 golongan berdasarkan harta. Pertama, seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian dengan kekayaannya itu, dia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturahmi dan mengetahi hak-hak Allah. Inilah kedudukan manusia yang paling mulia.

Kedua, seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta. Dengan kejujuran niatnya, dia mengatakan, “Jika seandainya aku mempunyai harta seperti fulan, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.” Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama. Ketiga, seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu. Tidak dia gunakan untuk bertakwa kepada Rabbnya, tidak pula untuk menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak Allah pada hartanya. Dia berada pada kedudukan paling rendah (di sisi Allah).

Keempat, seorang hamba yang tidak dikaruniai harta maupun ilmu oleh Allah. Lantas ia berkata “Kalau seandainya aku memiliki harta seperti si fulan, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si fulan.” Dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.” Hadist ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Imam Ahmad.

Sungguh ternyata banyaknya harta tanpa disertai ilmu agama, dapat mengancam kebahagiaan seorang muslim.
Banyak harta dapat berpotensi membuat diri lalai dan melampaui batas. Sehingga kemudian melanggar aturan syariat dan saling berlaku khianat. Karena itulah, yang lebih ditakutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada umatnya bukan kemiskinan, tapi kekayaan, yang membuat mereka berebut dunia.

Allah subhanahu wa ta’ala telah membantu mengingatkan kita semua melalui firmanNya:“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 27)

Dalam ayat lain juga disebutkan bahwa bermegah-megahan itu bisa melalaikan (QS. At-Takatsur: 1-2). Ditegaskan bahkan hingga masuk ke liang kubur baru akan menyadari bahwa harta yang dibangga-banggakan tiada berguna. Menyesal pada saat itu sudah tak berarti. Sungguh merugi.

Oleh karena itu, dalam hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah telah mengisyaratkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah tentang harta, tapi kekayaan hati. Rasulullah pun tak hanya bersabda, beliau juga langsung mempraktikkan dalam kehidupannya sehari-hari. Seluruh harta yang ia bahkan sejak bersama istri beliau yang pertama, Siti Khadijah, sepenuhnya diinfaqkan di jalan perjuangan menegakkan agama hingga habis tak bersisa.

Al-Qurthubi berkata, “Hadis ini (di atas) bermakna bahwa harta yang bermanfaat, agung dan terpuji adalah kekayaan jiwa.” Dengan demikian, tidak selalu harta benda yang banyak itu mendatangkan kebahagian, kebaikan dan kesenangan bagi pemiliknya. Kekayaan yang sebenarnya adalah sesuatu yang manusia rasakan dalam hatinya. Hatilah yang menentukan seorang manusia menjadi senang atau sengsara, kaya atau miskin dan bahagia atau sedih. Pangkalnya ada dalam hati.

Yuk kita melatih diri ini untuk membiasakan bersyukur meskipun dalam kesempitan. Karena kebahagiaan bukan tentang besar kecilnya rezeki yang kita peroleh, namun keberkahan yang dikandungnya. Bukankah jauh lebih indah yang sedikit namun semakin mendekatkan kita Allah kemudian memudahkan berbuat taat dan kebaikan, daripada yang banyak namun membuat kita jauh dari Allah?

Akhirnya, apabila hati telah diliputi rasa cukup (qana’ah) dengan pemberian Allah, ada keindahan, kemesraan dan ketenangan jiwa meski dalam keadaan sempit harta. Allah yang Maha Tahu keadaan terbaik untuk diri kita saat ini, untuk menjaga ketakwaan juga keimanan kita. Betapa indahnya rencana Allaah.

Ibn Bathaal pernah berkata: “Dan kaya jiwa (qona’ah) merupakan pintu keridhoan atas keputusan Allah dan menerima (pasrah) terhadap ketetapanNya, ia mengetahui bahwasanya apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang baik, dan pada ketetapan Allah lebih baik bagi wali-wali Allah yang baik” (Syarh shahih Al-Bukhari)

Maka, kenikmatan dan kebahagiaan itu sekali lagi, bergantung pada hati kita. Yuk pupuk hati ini dengan ilmu dari kalam-kalamNya, serta sabda dari rasulillah yang begitu besar menginginkan semua ummatnya selamat bahagia dunia dan akhirat.

Baarakallahu fiik.
#tulisanumma

Leave a Reply