Loading...
FinanceMarriage

Dua Prinsip Utama dalam Keuangan Keluarga

Banyak hal yang perlu diharmonisasikan bagi pasangan baru setelah menikah, termasuk urusan keuangan. Bagi suami, tentu ada penyesuaian dari sisi pengeluaran karena adanya pos nafkah bagi keluarga barunya. Namun secara umum, prinsip dan prioritas keuangan keluarga perlu didiskusikan bersama di awal kehidupan berumah tangga.

Dalam membangun sistem dan kebijakan keuangan keluarga, seorang muslim seyogyanya mentaati prinsip-prinsip dasar syariat Islam. Karena masalah keuangan ini bisa menjadi salah satu hal yang sangat mempengaruhi keberkahan dan keharmonisan keluarga. Berikut ini ada dua prinsip utama yang perlu senantiasa diupayakan.

Pertama, kita pastikan kehalalan dari harta yang dibawa pulang ke rumah. Sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW bahwa “Mencari yang halal adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim” (HR Thabrani). Harta ini salah satunya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makan. Makanan tersebut akan menjadi darah dan daging yang tumbuh dalam tubuh kita. Jika haram sumbernya, maka tubuh kita secara zat akan menyatu dengan hal haram.

Salah satu akibat yang bisa terjadi apabila tubuh kita tercemar dengan sesuatu yang haram adalah doa yang tertolak. Pada suatu hari Saad bin Abi Waqqas bertanya kepada Rasulullah,

“Ya Rasulullah, doakan aku kepada Allah agar aku dijadikan Allah orang yang makbul doanya.” Rasulullah menjawab, “Hai Saad, makanlah yang baik, (halal) tentu engkau menjadi orang yang makbul doanya. Demi Allah yang memegang jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang yang pernah melemparkan sesuap makanan haram ke dalam mulutnya (perutnya), maka tidaklah akan dikabulkan doanya selama selama 40 hari. Siapa saja manusia yang dagingnya tumbuh dari makanan yang haram, maka nerakalah yang berhak untuk orang itu.” (HR. Alhaafidh Abubakar bin Mardawih dikutip oleh Alhaafidh Ibnu Kathin dalam tafsirnya).

Allah juga berfirman, dalam Surat Al Baqarah ayat 186, bahwa “Aku (Allah) mengabulkan mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berikan kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. 2 :186)

“Memenuhi segala perintahKu” dalam ayat tersebut salah satunya adalah ketika berkarya, bekerja, mencari nafkah harus memilih yang halal saja. Mungkin secara jumlah kadang terlihat lebih sedikit, namun secara keberkahan sudah pasti berbeda. Harta halal pasti akan membawa keluarga kepada ketentraman dan mudah diajak untuk taat. Jika istri atau suami atau anak kita ada yang sulit berbuat taat, bisa jadi ada hal yang tidak sesuai syariat bercampur pada diri mereka.

Harta haram tak hanya membawa kegelisahan di dunia, namun juga kesengsaraan di akhirat. Dalam hadist disebutkan dari Ka’ab bin Ujrah ra, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali neraka lebih utama atasnya.” [HR. Tirmidzi].

Maka sahabat, yuk mulai jeli kembali untuk menjamin dan memastikan kehalalan sumber pemasukan keuangan kita. Terlebih bagi yang sudah berkeluarga, mari menjaga anak dan pasangan kita dari api neraka. Seorang istri dari generasi Salaf pernah berpesan kepada suaminya, “Wahai suamiku! Bertakwalah engkau kepada Allâh saat mencari rezeki untuk kami! Karena sesungguhnya kami mampu menahan lapar dan dahaga, akan tetepi kami tak akan mampu menahan panas api neraka.”

Janganlah kedatangan rezeki yang terlambat menyeret kita untuk bermaksiat kepada Allâh Azza wa Jalla , karena apa yang ada di sisi Allâh hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya.

Prinsip kedua, alokasikan pengeluaran sesuai dengan kewajiban dan kemampuan secara jujur. Jujur disini, maksudnya adalah sesuai kemampuan dan jangan memaksakan kehendak. Misalkan sebagai pasangan baru belum mampu membeli rumah, tidak mengapa sewa dahulu. Jika ada cukup uang dan kemudian membeli, maka pastikanlah pembiayaannya tidak menggunakan akad ribawi. Begitu juga untuk kendaraan dan kebutuhan lainnya. Sepakati prioritas pengeluaran sesuai dengan misi besar keluarga.

Yang penting bagi muslim, ada kewajiban yang perlu dikeluarkan di setiap harta yang kita dapatkan, yaitu zakat. Zakat adalah hak orang lain sesuai syariat (8 asnaf/golongan) yang dititipkan melalui kita. Zakat ditunaikan justru untuk mensucikan harta dan jiwa kita. Apabila kita tidak mengeluarkan zakat, kita bisa terjerumus pada memakan harta yang bukan hak (haram).

Demikian juga bagi yang ada pinjaman, wajib bagi kita mengembalikan. Melunasi hutang hendaknya menjadi salah satu prioritas utama, agar jiwa kita lebih tenang, selamat dan terhormat.

Kemudian jika boleh memberikan saran, adakan pos keuangan untuk segera mendaftar haji atau umrah bersama. Semua perlu musyawarah dan manajemen prioritas keluarga, dan tentunya edukasi kesadaran diri akan pentingnya menerapkan prinsip Islami dalam keluarga.

Demikian dua prinsip yang perlu senantia kita ikhtiarkan. Semoga Allah berikan kemudahan dan senantiasa berikan keberkahan dari rezeki yang dititipkan kepada kita. Aamiin

Oleh: Lisa Listiana (@listianaica)

Leave a Reply