5 Cara Merasa Cukup atas Rezeki Harta

Permasalahan finansial selalu menjadi perbincangan yang menarik. Pasalnya, pilar ini seakan menjadi tonggak yang akan mengayuh perjalanan biduk rumah tangga. Tidak sedikit rumah tangga yang karam atau jadi bermasalah karena hal ini. Oleh karena itu, butuh untuk mengelolanya dengan baik agar sektor finansial tidak memporak-porandakan kondisi internal pernikahan.

Seringkali dalih yang dilontarkan ketika keuangan keluarga menjadi berantakan adalah merasa tidak cukupnya pendapatan yang ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan hal ini kadang membuat suami-istri harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan lebih. Namun, benarkah penghasilan lebih bisa membuat semua kebutuhan kita menjadi terpenuhi?

“dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan kecukupan”. (QS An-Najm: 48)

Jika dibaca lamat-lamat tentunya kita harus memaknai kalimat ini secara mendalam. Allah memberikan rezeki untuk memenuhi kebetuhan kita dalam dua bentuk, yaitu kekayaan dan kecukupan. Artinya, semua rezeki yang kita dapatkan itu seharusnya bisa membuat kita menjadi kaya dan merasa cukup. Sayangnya, kadang kita sulit untuk meyakini makna cukup yang sebenarnya.

Jika menggunakan kacamata perhitungan manusia, bagaimana mungkin seorang dengan pendapatan minim mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, apakah orang yang memiliki pendapatan fantastis dapat memenuhi semua kebutuhannya juga.

Bisa dibilang kebutuhan bersifat subjektif. Butuh karena memang diperlukan untuk keberlangsungan hidup kita. Bukan gaya hidup, yang bisa jadi dipenuhi tidak sesuai dengan kebutuhan kita. Sederhananya ketika membeli barang, apakah benar barang itu kita butuhkan atau hanya karena ingin membelinya saja. Sebuah baju baru akan menjadi kebutuhan ketika baju lama kita memang sudah sobek atau rusak sehingga tidak bisa dipakai. Di sisi lain, baju baru hanya akan menjadi kesia-siaan jika dibeli tanpa nilai manfaatnya.

Perlunya merasa cukup agar kita bisa memakai uang yang kita dapatkan dengan cara yang bijak. Sebab pada harinya nanti, kita akan dimintai pertanggungjawabannya atas harta yang kita miliki. Semakin banyak harta kita, maka kita pun harus mampu membuat harta itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai penggunaannya menjadi batu sandungan kita untuk mendapatkan ridho-Nya.

Merasa cukup bukanlah perkara mudah. Sebagai manusia kita diciptakan dengan nafsu yang menuntut untuk terpenuhi. Hal inilah yang selalu membuat kita menjadi lalai untuk merasa cukup. Dengan demikian, kita harus berlatih agar rasa cukup ini menjadi bagian dari hidup rumah tangga kita.

Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk merasa cukup dengan rezeki yang ada, yaitu:

  1. Mengembalikan keyakinan bahwa Allah yang memberikan rezeki kepada hamba-Nya. Kadang alasan seperti “takut tidak cukup” membuat keyakinan ini sedikit goyah. Kita lebih mengedepankan logika manusia kita yang tentu memiliki kelemahan. Padahal janji Allah dalam surat An-Najm ayat 48 di atas sudah sangatlah jelas. Namun, memang pada praktiknya hal ini sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, kita harus kembali memaknai tentang arti Allah sebagai pemberi rezeki yang akan memberi kecukupan kepada kita. Sebab rezeki itu bisa saja bukan berasal dari pendapatan kita. Bisa jadi Allah mencukupkan kebutuhan kita lewat jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
  2. Memahami perencanaan keuangan dalam Islam. Ini menjadi kunci penting agar kita tahu kewajiban kita sebagai seorang hamba-Nya itu bagaimana dalam menghabiskan uang. Kita harus tahu harta kita sebaiknya dihabiskan untuk apa agar mendapatkan keberkahan dalam menghabiskannya. Ini menjadi dasar kita dalam merencanakan keuangan.
  3. Rencanakan keuangan secara mendetail. Rasa tidak cukup bisa jadi muncul karena kita tidak tahu sebenarnya uang kita sudah dipergunakan untuk apa saja. Adakah hal-hal yang dibelanjakan di luar keperluan seharusnya. Merencanakan keuangan bisa dimulai dengan membuat catatan dahulu secara rinci pengeluaran dasar kita. Kemudian dilanjutkan dengan pengeluaran tambahan di luar kebutuhan pokok kita.
  4. Memisahkan antara butuh dan ingin. Setiap kali hendak membeli sebuah barang, tanyakan berulang kali apakah memang barang itu kita butuhkan atau tidak. Jikalaupun dibeli karena sedang diskon atau mendapatkan bonus dalam pembeliannya, harus dipastikan barang itu dapat bermanfaat untuk ke depannya. Kita harus paham tiap barang yang kita miliki akan diminta pertanggungjawabannya.
  5. Berdiskusi dengan pasangan dan terbuka dalam membahas keuangan. Ini merupakan poin paling penting karena suami-istri haruslah sejalan dalam menentukan peruntukan keuangannya. Harus bisa saling membuka diri tentang kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi, termasuk membahas apa saja yang penting dan tidak penting dimiliki sebagai harta keluarga. Begitu juga memasukkan tentang siapa pemegang kendali dalam menjalankan kontrol finansial, pembukaan rekening bersama, dsb. Keterbukaan ini akan menjaga agar kedua belah pihak sudah merasa cukup dengan rezeki yang ada.

Kelima tips ini bisa menjadi langkah dasar untuk mulai memperbaiki kondisi keuangan keluarga. Tidak lupa pula kita harus menetapkan visi keuangan keluarga kita ke depannya. Sekali lagi agar kita mampu menghabiskan harta secara baik dan mendapatkan keberkahan darinya.

Sejatinya kecukupan itu berasal dari hati yang tenang dan mampu memahami dengan baik tujuan kita hadir di dunia. Sebagai alat untuk mencapai tujuan itu, maka harta yang ada sudah selayaknya menggiring kita menunju kerahmatan, bukan kebodohan dan musibah. Semoga sedikit saran ini bisa menjadi pengingat bahwa mencukupkan diri bukan berarti mencekik diri, melainkan bisa mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita berapapun jumlahnya.

Editor: Agastya Harjunadhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *