Loading...
Events

Press Release : Indonesia Mommy Talks – Tangguh di Medan Juang

Lisa Listiana (kiri atas), founder The Real Ummi ketika memberikan sambutan. Ibu Fahira Idris dan Ustzh Erika (tengah dan kanan atas), serta peserta yang khidmat menyimak inspirasi para ibu hebat.

Ahad, 4 Juni 2017, The Real Ummi, sebuah komunitas yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan kaum perempuan serta parenting dan pengasuhan anak ini menyelenggarakan 1st Indonesia Mommy Talks di DLAB Menteng, Jakarta Pusat. Talkshow yang diadakan untuk kali pertamanya ini bertajuk “Tangguh di Medan Juang, Narasi dan Inspirasi Ibu dalam membangun Generasi”, sebuah harmonisasi refleksi dan cita-cita antara problematika dan solusi dari perspektif para perempuan (Ibu maupun calon ibu) untuk Indonesia.

Acara dimulai dengan berdoa, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebagai bentuk penghormatan peringatan Hari Kesaktian Pancasila (1 Juni 1945) yang dipandu oleh MC. Setelah itu dibuka dengan sambutan oleh founder The Real Ummi, Lisa Listiana. Dalam sambutannya, Lisa yang seorang awardee LPDP ini menuturkan bahwa banyak problematika bangsa ini terjadi penyebabnya adalah salah satunya bermula dari keluarga.

“Ada banyak hal penting yang terlupakan oleh kita semua. Kita sekolah dari SD hingga kuliah jenjang S1, S2 yang mungkin secara umum agar nanti mendapatkan pekerjaan yang baik. Lalu bagaimana agar kita bisa menjadi ibu yang baik? Membangun keluarga yg baik? Bukankah itu perlu disiapkan? Itulah alasan The Real Ummi dibentuk, sebagai sharing and learning platform bagi mereka calon ibu dan ibu, dalam harmonisasi antara cinta dan cita-cita” pungkasnya

Saat ini para kontributor The Real Ummi mayoritas adalah dari kawan-kawan awardee LPDP. Tentunya teman-teman lain juga sangat diharapkan untuk bisa ikut bergabung. Di sini kita akan berbagi ilmu, hikmah dan tips-tips agar keluarga kita semakin baik dengan begitu terbentuk generasi yang terbaik untuk bangsa ini. Di tahun kedua nanti, The Real Ummi juga akan merilis e-learning sebagai sarana untuk belajar.

“Problem ibu biasanya tentang fleksibilitas. E-learning ini diharapkan menjadi solusi, mampu memenuhi kebutuhan/minat belajar para ibu yang tinggi, namun terbatas secara waktu dan jangkauan” terang Lisa, ibu satu anak yang juga kandidat doktor Islamic Banking and Finance di IIUM ini.

Dalam seminar ini, mengundang ibu Khofifah Indarparawansa, sebagai keynote speaker. Beliau mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, tokoh Muslimat NU, kini Menteri Sosial, tentu sangat banyak memiliki ilmu dan inspirasi keluarga, namun karena ada agenda lain beliau berhalangan hadir.

Pembicara lain adalah Ibu Ledia Hanifa, anggota DPR RI bidang pemberdayaan perempuan, Ibu Fahira Idris, seorang aktifis perempuan, ketua Gerakan Nasional Anti Miras, dan ketua Bang Japar (Kebangkitan Jawara dan Pengacara), dan Ibu Erika Suryani Dewi, seorang praktisi dan konsultan keluarga, juga aktif sebagai dosen STIDDI Al Hikmah. Mereka semua para ibu, guru sekaligus inspirator dalam memberikan teladan untuk menjadi ibu yang tangguh dan memilih medan juangnya di bidang masing-masing dalam perannya membangun generasi.

Dalam sesi pembukaan, diawali sharing session oleh Ibu Ledia Hanifa. Beliau memaparkan pentingnya peran kita semua untuk membangun bangsa, tentu dimulai dari diri sendiri dan keluarga.

“Di Indonesia terdapat 94 juta rumah tangga sangat miskin. Hanya 6 juta diantaranya yang mendapat bantuan. Pemberian bantuan langsung tidak dapat memberikan perubahan positif, malah merusak. Seharusnya ada program keluarga (family development) agar ada motivasi bagi anak-anaknya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi agar membawa perubahan positif kepada keluarga” terangnya.

Menurut Bu Ledia, melakukan perubahan sebanarnya ada 2 hal sederhana, pertama melalui kebijakan publik yang baik. Kedua, community development, bagaimana caranya agar para keluarga, masyarakat mau bekerja sama dalam memberikan perubahan yang berarti. Membangun kemandirian setiap anggota keluarga, anak-anak dan lainnya, namun harus tetap peka kepada lingkungan sekitar.

“teladan kepedulian dari orang tua. Karena biasanya orang tua karir, lupa dengan tetangga. Ini yang kurang baik dicontoh oleh anak-anaknya”, pungkasnya.

 

Menurut Bu Ledia, orang tua harus memberikan konsentrasi penuh pada tumbuh kembang anak. Ketika memilih menjadi orangtua maka bersiaplah untuk  berkorban mengurangi kesenangan pribadi.  Anak bukanlah orang dewasa dalam tubuh yang kecil. Anak adalah pribadi yang harus dididik untuk menjadi mandiri. Kalau ingin menjadi ibu yang banyak beraktivitas harus mampu manage urusan domestik rumah tangga dan jangan lupa untuk membangun komunikasi yang baik dalam keluarga khususnya suami dan anak.

Perbedaan jaman menuntut dibutuhkan ilmu yang lebih mumpuni untuk menjadi madrasah peradaban. Keteladan mutlak harus dimiliki para orangtua.  Hal tak kalah penting adalah konsistensi dalam pengajaran kepada anak. Jadikanlah keteladan keluarga Rasulullah SAW dalam membangun keluarga.

Mengutip perkataan Prof. Dr.Ing. Habibie dalam seminarnya, “Kita membangun bangsa ini agar menjadi bangsa yang besar, tapi kita luput menyiapkan keluarga-keluarga untuk menjadi bangsa yang besar “ .

“Kita membangun bangsa ini agar menjadi bangsa yang besar, tapi kita luput menyiapkan keluarga-keluarga untuk menjadi bangsa yang besar “ 

Senada dengan itu, Ibu Fahira Idris, juga menekankan kepedulian kepada bangsa dimulai dari diri sendiri. Ia memaparkan bahwa awalnya dirinya tak terlalu perhatian dengan lingkungan.

“Dahulu saya fokus dengan bisnis saya, parcel. Nah sejak usia 30an, mulai kenal twitter, saya mulai kenal berbagai macam informasi yang sangat update dan salah satunya permasalahan sosial yang cukup banyak” kenangnya.

Dari sanalah Ibu 2 putri ini mulai peka terhadap lingkungan. Gerakan pertama peduli lingkungan adalah tentang kasus rumah border dekat rumah. Atas wasiat Ibu dan dukungan suami dan tentunya ridho Allah, Ia bekerja sama dengan polisi dan warga setempat berhasil menutup rumah maksiat tersebut. Dari sana medan juang Fahira mulai berlanjut. Hingga lahir gerakan-gerakan lain besutannya seperti Gerakan Nasional Anti Miras, dan Gerakan Kebangkitan Jawara dan Pengacara.

“Pada dasarnya setiap titik kehidupan kita adalah medan juang dan setiap  medan juang itu sama saja. Bagi saya jabatan di dunia itu tidak ada levelnya, semuanya satu tujuan. Ada rahasia untuk tangguh di medan juang, yaitu berbakti pada ibu dan  suami”, tegasnya sebagai tips kepada 90 orang lebih para peserta.

Dalam sesi penutup beliau menegaskan agar sebagai perempuan tetap bisa berkontribusi kepada bangsa. “ Kita semua sama, berjuang. Pilihlah jalan juang sesuai passion kita. Jangan tinggalkan restu orang tua dan ridho suami, insya Allah kamu akan sukses” tegasnya.

Pilihlah jalan juang sesuai passion kita. Jangan tinggalkan restu orang tua dan ridho suami, insya Allah kamu akan sukses

Dalam sesi terakhir, Ibu Ustadzah Erika memberikan pemahaman tentang pentingnya dan keutamaanya menjadi Ibu.

Menurutnya, orang yang sukses adalah orang yang mau belajar dari sejarah masa lalunya dan sejarah orang-orang soleh. Surga ada di telapak kaki ibu -surga yang dimaksud adalah peranan seorang ibu.

“Setiap langkah-langkahnya akan menghasilkan surga jika dijalankan dengan ikhlas. Untuk para ibu, tanamkan satu niat ikhlas. Jadikan langkah-langah kita ibadah. Ibadah itu bukan hanya ibadah mahdah, tapi seluruh kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar yang diniatkan karena Allah. Harapan setiap orangtua adalah keturunan soleh yang merupakan tabungan kebaikan di yaumil akhir. Rasulullah bersabda, “ Aku bangga dengan umatku yang banyak pada hari kiamat “. Terang beliau.

Kontribusi seorang muslimah telah terbukti dari jaman dahulu. Siapa yang pertamakali memeluk islam ? khadijah, Siapa yang membantu rasulullah hijrah ? Asma’. Siapa yang syahid pertama kali? Summayah. Mereka adalah Perempuan. Bagi perempuan,  Pendidikan itu tidak ada akhir-long life for education- sedangkan menikah itu cukup sekali seumur hidup. Maka, keduanya tidak dapat dibenturkan.

Islam memuliakan wanita melalui reproduksi. Hadist Rasulullah, “Menikahlah dan berketurunanlah”. Rasulullah pun  menganjuran memilih pasangan yang subur. Kedudukan perempuan pun dilindungi dalam islam, sebagaimana hadist Rasulullah, “Aku mewasiatkan kepada kalian untuk memperlakukan wanita dengan baik”. Fungsi ibu adalah melindungi keturunannya dan jadikanlah Allah sebagai sebaik-baiknya pelindung. Ajarkan anak bergantung hanya pada Allah. Ketika anak sudah kuat jiwa muqorabatullah, maka dia akan menjauhi segala sesuatu yang dibenci Allah. Dan sudah sepantasnya kita sebagai orang tua harus membenahi diri bahkan dari sebelum menikah.

Durhaka anak terhitung dari akhil balignya, namun durhakanya orangtua dari sebelum menikah. Memilih pasangan yang sholeh adalah salah satu kewajiban. Seseorang bisa menjadi orang tua durhaka jika memilih yang tidak sholeh untuk anak-anaknya kelak. Hidup itu untuk ibadah dan menikah adalah salah satu ibadah, bukan satu-satunya. Jadi jangan “ yang penting menikah”. Menikahlah yang dengan kualitas dan mengupayakan untuk mencapai generasi soleh/solehah.

Menikahlah yang dengan kualitas dan mengupayakan untuk mencapai generasi soleh/solehah.

Sejalan dengan itu, pelatihan pranikah merupakan hal yang dibutuhkan untuk mendidik calon orangtua. Dimasa sekarang pemahaman berumah tangga sangat diperlukan karena berumah tangga merupakan ladang ibadah. Perempuan itu tiangnya negara. Jika mempersiapkan seorang wanita dengan baik, maka ibarat menyiapkan suatu bangsa dengan segala kebaikannya.

Untuk para perempuan, belajarlah setinggi-tingginya untuk mendidik anak. Muslimah harus luas ilmunya. Ibu itu harus bersandar total kepada Allah. Kalau bukan Allah nanti tidak akan kuat.  Perempuan itu kekuatan yang dibungkus kelembutan. Jadilah perempuan yang cerdas akalnya, baik akhlaknya, dan kuat fisiknya. Karena kecerdasan saja tanpa iman hanya akan mendatangkan kerusakan.

1st Indonesia Mommy Talks ini bekerjasama dengan Mata Garuda, wadah alumni para penerima beasiswa LPDP Republik Indonesia. Seminar ini juga disiarkan secara worldwide webinar yang diikuti oleh lebih dari 210 peserta online yang tersebar di Australia, Jepang, Hongkong, ASEAN, USA, dan juga berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini disponsori oleh URIDU Studio dan The Malahayati, didukung oleh Wardah Cosmetics, Muslim Mommypreneur, Hijabers Community, Wanita Indonesia, Share Channel, harian AMANAH, dll.

Leave a Reply